Usyk Kosongkan Tiga Sabuk Juara, Siapkan 'Tarian Terakhir' di Ring
Baca dalam 60 detik
- Oleksandr Usyk secara sukarela melepas sabuk WBC, WBA, dan IBF untuk memberi kesempatan petinju lain memperebutkan gelar.
- Petinju Ukraina berusia 39 tahun itu masih menyisakan satu pertarungan pamungkas yang disebutnya sebagai 'last dance'.
- Keputusan ini membuka jalur bagi petinju kelas berat lain untuk menjadi juara dunia baru di tiga organisasi tersebut.

Oleksandr Usyk, petinju Ukraina yang tak terkalahkan dalam 25 pertarungan profesional, memutuskan untuk mengosongkan sabuk juara dunia kelas berat versi WBC, WBA, dan IBF. Keputusan ini diumumkan melalui unggahan video di Instagram pada Jumat (26/6), dengan alasan ingin memberi kesempatan bagi petinju lain yang berada di barisan belakang untuk memperebutkan gelar.
Usyk, yang tahun lalu juga telah melepas sabuk WBO, menegaskan bahwa langkah ini bukan berarti ia pensiun. "Saya memberikan gelar-gelar saya, tapi saya tidak meninggalkan olahraga karena saya masih punya satu tarian terakhir... masih ada yang akan datang," ujarnya dalam video tersebut. Pria kelahiran 1987 ini menyebut pertarungan terakhirnya sebagai "last dance", sebuah istilah yang kerap digunakan untuk momen perpisahan yang spektakuler.
Pencapaian terbesar Usyk terjadi pada 2024 ketika ia mengalahkan Tyson Fury asal Inggris untuk pertama kalinya, sekaligus menjadi juara tak terbantahkan (undisputed) di kelas berat. Kemenangan itu melengkapi koleksi sabuknya setelah sebelumnya ia mengalahkan Anthony Joshua dua kali. Terakhir, Usyk baru saja menang TKO atas Rico Verhoeven bulan lalu.
Keputusan Usyk membuka peluang bagi petinju kelas berat lain untuk merebut gelar yang ditinggalkan. Saat ini, nama-nama seperti Daniel Dubois, Filip Hrgovic, dan Agit Kabayel disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk memperebutkan sabuk kosong tersebut. Dunia tinju kelas berat dipastikan akan memasuki babak baru dengan absennya sang juara absolut.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, langkah Usyk menjadi pengingat akan pentingnya sportivitas dan keberanian untuk membuka jalan bagi generasi berikutnya. Meski tidak ada petinju Indonesia yang terlibat langsung, momen ini tetap relevan sebagai bagian dari dinamika olahraga global yang kerap diikuti oleh komunitas tinju Tanah Air.
Pertanyaan yang kini mengemuka: siapa lawan yang akan menjadi "tarian terakhir" Usyk? Akankah ia kembali menantang Fury untuk trilogi, atau memilih petinju lain yang belum pernah ia hadapi? Yang jelas, dunia tinju menanti aksi pamungkas sang legenda Ukraina.



