Dua Mantan Pemain NBA Didakwa Atas Skandal Pengaturan Skor untuk Judi
Baca dalam 60 detik
- Malik Beasley dan Ed Davis, mantan bintang NBA, menghadapi dakwaan federal karena diduga menerima suap untuk memanipulasi statistik pertandingan demi keuntungan taruhan.
- Kasus ini menambah daftar panjang atlet profesional yang terjerat skandal integritas olahraga di tengah maraknya legalisasi judi olahraga di Amerika Serikat.
- Jaksa mengungkapkan bahwa Beasley yang terlilit kerugian judi besar mengatur performa di tiga laga 2024, sementara Davis menyebarkan informasi itu ke jaringan bandar.

Jaksa federal Amerika Serikat pada Senin (29/6) mengumumkan dakwaan terhadap dua mantan pemain National Basketball Association (NBA), Malik Beasley dan Ed Davis, atas tuduhan terlibat dalam skandal pengaturan skor yang terkait dengan perjudian. Keduanya diduga menerima suap untuk sengaja mempermainkan statistik individu mereka—seperti jumlah poin atau rebound—demi memenangkan taruhan ilegal yang melibatkan ratusan ribu dolar.
Menurut dokumen pengadilan yang diajukan di Brooklyn, New York, Beasley yang saat itu membela Milwaukee Bucks pada 2024 telah memberi tahu Davis sebelum tiga pertandingan berbeda bahwa ia akan tampil di atas atau di bawah kemampuan normalnya dalam kategori statistik tertentu. Imbalannya, Beasley dijanjikan sejumlah uang suap. Davis kemudian meneruskan informasi tersebut kepada beberapa kaki tangan yang kemudian memasang taruhan besar—dan sebagian besar berhasil.
Jaksa menyebut Beasley, yang memulai karier NBA pada 2016 dan telah mengantongi puluhan juta dolar, justru mengalami kerugian judi yang mencapai jutaan dolar. "Ia memiliki catatan kerugian perjudian yang sangat besar," ujar jaksa dalam pernyataan resmi. Kondisi finansial yang tertekan inilah yang diduga menjadi motif di balik skema tersebut.
Pengacara Beasley, Steven Haney, dalam pernyataan tertulis menegaskan bahwa kliennya tetap menganggap diri tidak bersalah selama proses penyelidikan dua tahun ini berlangsung. "Kami meminta publik menahan penilaian sampai semua fakta terungkap," kata Haney. Sementara itu, kuasa hukum Davis belum memberikan tanggapan. NBA dan Milwaukee Bucks juga belum berkomentar resmi.
Kasus ini menjadi babak baru dalam rentetan skandal integritas olahraga yang melanda Amerika Serikat pasca-legalisasi besar-besaran judi olahraga di berbagai negara bagian. Sebelumnya, beberapa atlet dari liga lain juga telah didakwa dengan modus serupa: memanipulasi performa pribadi untuk menguntungkan taruhan. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan regulator dan pengelola liga tentang efektivitas pengawasan terhadap atlet yang rentan terhadap tekanan finansial.
Bagi penggemar basket di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap NBA terdapat risiko besar ketika atlet terjerat judi. Meskipun perjudian olahraga masih ilegal di Indonesia, maraknya akses ke platform taruhan luar negeri membuat kasus seperti ini relevan untuk dicermati. Regulator olahraga Tanah Air pun diharapkan dapat memperkuat edukasi anti-judi kepada atlet sejak level junior.
Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana NBA akan memperketat aturan untuk mencegah atletnya terlibat praktik serupa? Dengan semakin banyaknya negara bagian AS yang melegalkan judi olahraga, tekanan terhadap integritas kompetisi diprediksi akan terus meningkat. Dakwaan terhadap Beasley dan Davis bisa menjadi preseden penting dalam penegakan hukum di dunia olahraga profesional.



