Polymarket Tembus Pendapatan Tahunan Rp15 Triliun, Pasar Prediksi Kian Dilirik Investor Institusi
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan tahunan Polymarket menembus US$1 miliar, menandai pertumbuhan eksponensial pasar prediksi dalam dua tahun terakhir.
- Platform ini baru enam bulan lalu membuka akses bursa di AS, menarik minat investor ritel dan institusi besar.
- Intercontinental Exchange, induk NYSE, telah mengucurkan investasi US$2 miliar, menandakan legitimasi industri dari pemain keuangan tradisional.

Polymarket, platform pasar prediksi berbasis kripto, mencatat pendapatan tahunan (annualized revenue) lebih dari US$1 miliar atau setara Rp15 triliun, menurut sumber yang mengetahui langsung data tersebut. Capaian ini menjadi tonggak baru bagi industri yang semula hanya dikenal di kalangan akademisi dan komunitas kripto, kini menjelma menjadi segmen perdagangan yang tumbuh pesat.
Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, volume transaksi dan jumlah pengguna aktif di pasar prediksi melonjak drastis. Fenomena ini didorong oleh minat investor ritel yang berbondong-bondong membeli dan menjual kontrak terkait hasil peristiwa masa depan—mulai dari pemilu, pertandingan olahraga, hingga peristiwa ekonomi global. Polymarket menjadi salah satu pemain utama yang menuai berkah dari tren tersebut.
Menurut sumber yang dihubungi Reuters, pencapaian pendapatan ini terjadi sekitar enam pekan setelah Polymarket meluncurkan akses bursa untuk pengguna di Amerika Serikat. Langkah itu membuka pintu bagi lebih banyak pedagang untuk berpartisipasi, sekaligus memperkuat posisi perusahaan di pasar domestik. Seorang juru bicara Polymarket menyatakan bahwa perusahaan berfokus pada pengembangan produk dan telah menghabiskan lima tahun terakhir untuk membangun pasar prediksi terbesar di dunia.
Pasar prediksi tidak lagi hanya menjadi arena bagi investor ritel. Platform-platform seperti Polymarket kini gencar mendekati investor institusi dan hedge fund. Langkah ini menunjukkan bahwa sektor tersebut mulai dianggap serius oleh pemain keuangan arus utama. Dukungan paling nyata datang dari Intercontinental Exchange (ICE), induk Bursa Efek New York (NYSE), yang tahun lalu sepakat menginvestasikan US$2 miliar di Polymarket. Ini menjadi salah satu bentuk pengakuan terbesar terhadap industri pasar prediksi dari lembaga keuangan tradisional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka diskusi tentang potensi regulasi dan adopsi pasar prediksi di dalam negeri. Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum secara spesifik mengatur instrumen serupa, minat masyarakat terhadap perdagangan berbasis peristiwa—seperti pemilu atau hasil pertandingan—cukup tinggi. Pengamat pasar modal menilai bahwa jika diatur dengan baik, pasar prediksi bisa menjadi alternatif investasi yang menarik, namun juga berisiko tinggi karena sifatnya yang spekulatif.
Polymarket sendiri menawarkan beragam pasar, mulai dari taruhan pemenang Piala Dunia FIFA hingga kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa platform berusaha menjaring minat dari berbagai kalangan. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pasar prediksi akan terus tumbuh dan diadopsi secara luas, atau justru menghadapi tekanan regulasi yang lebih ketat seiring meningkatnya perhatian otoritas keuangan global.



