Ian Wright: Skotlandia Gagal Manfaatkan Potensi, Norwegia Jadi Bukti
Baca dalam 60 detik
- Mantan striker Arsenal Ian Wright menilai Skotlandia gagal memanfaatkan basis suporter besar dan potensi talenta, dengan Norwegia sebagai perbandingan negara berpopulasi serupa yang kini melaju ke fase gugur Piala Dunia 2026.
- Nilai siaran televisi domestik Norwegia mencapai lebih dari £50 juta per musim, jauh melampaui Skotlandia yang hanya sekitar £30 juta, meskipun kehadiran penonton per kapita Skotlandia tertinggi di Eropa.
- Ketimpangan pendapatan siaran berdampak pada infrastruktur dan pengembangan pemain muda, membuat Skotlandia terus kehilangan bakat ke klub dengan sumber daya lebih besar.

Mantan striker Arsenal dan Inggris, Ian Wright, melontarkan kritik tajam terhadap sepak bola Skotlandia setelah tim nasionalnya kembali gagal melaju dari fase grup turnamen besar. Wright menyebut ada pihak yang "mengkhianati" potensi besar sepak bola Skotlandia dalam skala masif, dengan membandingkannya dengan Norwegia—negara berpenduduk serupa yang kini tengah bersiap menuju babak gugur Piala Dunia 2026.
Dalam analisisnya di ITV, Wright menyoroti ironi yang mencolok: Skotlandia memiliki rata-rata kehadiran penonton Liga Utama sekitar 16.000 per pertandingan, tertinggi per kapita di Eropa menurut laporan UEFA 2024. Namun, pendapatan dari hak siar televisi justru jauh di bawah Norwegia, yang rata-rata penontonnya hanya 7.000 per laga. "Norwegia mendapatkan kontrak siaran senilai £25 juta lebih per tahun dibanding Skotlandia," ujar Wright.
Data Transfermarkt mengonfirmasi bahwa rata-rata penonton Liga Norwegia musim 2025 hanya sekitar 7.000, sementara Liga Utama Skotlandia—yang sangat bergantung pada Celtic dan Rangers—mencatat angka 16.000. Namun, nilai siaran Norwegia saat ini dilaporkan melebihi £50 juta per musim, dan diperkirakan naik menjadi lebih dari £60 juta mulai 2029. Sebaliknya, SPFL Skotlandia hanya mendapat sekitar £30 juta per musim dari kontrak £150 juta yang berlaku hingga 2029.
Menurut Wright, ketimpangan ini bukan sekadar soal angka, melainkan cerminan kegagalan strategis. Pendapatan siaran yang lebih besar memungkinkan Norwegia berinvestasi pada infrastruktur, fasilitas, dan akademi. Hasilnya, mereka kini memiliki pemain kelas dunia seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard, dan untuk ketiga kalinya dalam sejarah melaju ke fase gugur Piala Dunia. Sementara Skotlandia, yang baru kembali ke turnamen besar setelah absen lama, hanya mengoleksi tiga poin dari tiga laga grup dan terancam tersingkir lebih awal.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus Skotlandia menjadi pelajaran berharga. Basis suporter yang besar dan antusiasme tinggi tidak otomatis menjamin kesuksesan jika tidak diimbangi tata kelola yang profesional, terutama dalam memonetisasi hak siar. Liga 1 Indonesia, dengan rata-rata penonton yang juga tinggi, menghadapi tantangan serupa: nilai kontrak televisi yang relatif rendah dibandingkan potensi pasar. Jika tidak segera dibenahi, Indonesia berisiko mengalami nasib serupa—potensi besar namun prestasi tim nasional mandek.
Wright menekankan perlunya "visi yang lebih berani" dan mengkritik kebiasaan menyalahkan faktor eksternal seperti mahalnya sewa lapangan atau maraknya gawai. "Seseorang telah mengecewakan Skotlandia dalam skala besar," tegasnya. Reaksi di media sosial menunjukkan banyak penggemar Skotlandia setuju dengan pandangan tersebut.
Pertanyaan besarnya kini: apakah para pemangku kepentingan sepak bola Skotlandia—dan Indonesia—berani melakukan perubahan struktural, atau akan terus terjebak dalam siklus potensi yang tak tergarap?



