Afrika Moncer, Asia Terpuruk: Piala Dunia 2026 Jadi Cermin Kesenjangan Sepak Bola Global
Baca dalam 60 detik
- Sepuluh wakil Afrika di Piala Dunia 2026, sembilan di antaranya lolos ke fase gugur, menandai lompatan besar sejak kegagalan total di Rusia 2018.
- Asia hanya mampu meloloskan dua dari sembilan tim, dengan catatan tiga kemenangan dari 27 laga, jauh tertinggal dari Afrika yang meraih 10 kemenangan.
- Keberhasilan Afrika didorong oleh investasi jangka panjang pada pembinaan usia muda dan banyaknya pemain yang berlaga di liga Eropa, sementara Asia masih bergantung pada segelintir negara.

Piala Dunia 2026 menjadi saksi bisu transformasi sepak bola Afrika yang melesat, sementara Asia justru tenggelam dalam krisis performa—sebuah kontras tajam yang memicu pertanyaan besar tentang masa depan persaingan antar benua.
Dari sepuluh negara Afrika yang berlaga di turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini, sembilan di antaranya berhasil menembus babak 32 besar. Hanya Tunisia yang gagal melaju. Capaian ini merupakan lonjakan dramatis dibandingkan Piala Dunia 2018 di Rusia, ketika tak satu pun dari lima wakil Afrika mampu melewati fase grup, dengan catatan tiga kemenangan dari 15 pertandingan. Sebaliknya, Asia hanya mampu menyumbangkan dua dari sembilan timnya ke fase gugur, yaitu Australia dan Jepang. Korea Selatan, yang empat tahun lalu melaju ke babak 16 besar, tersingkir lebih awal dan memicu gejolak politik di negeri Ginseng.
Perbedaan mencolok ini tidak lepas dari format baru yang diperkenalkan FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Dengan 48 peserta, setiap grup kini hanya berisi tiga tim, dan delapan peringkat ketiga terbaik juga berhak melaju. Namun, jika format ini menjadi peluang emas bagi Afrika, Asia justru gagal memanfaatkannya. Dalam lima pertandingan penentuan antara wakil Afrika dan Asia di fase grup, tak satu pun tim Asia yang menang; empat di antaranya kalah.
Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Patrice Motsepe, mengaitkan keberhasilan ini dengan kerja keras dan investasi berkelanjutan di bidang pembinaan usia muda, pelatihan, serta pengembangan liga profesional di seluruh benua. Maroko disebut sebagai tolok ukur: federasi sepak bola negara itu telah membangun akademi dan infrastruktur secara konsisten selama bertahun-tahun. Mantan kapten Nigeria, William Troost-Ekong, menegaskan bahwa Maroko telah menciptakan cetak biru yang bisa diikuti negara Afrika lainnya. "Mereka berinvestasi tidak hanya uang, tetapi juga waktu dan upaya dengan visi yang jelas," ujarnya.
Di sisi lain, kegagalan Asia sebagian besar disebabkan oleh minimnya pemain yang bermain di liga-liga Eropa. Pelatih Yordania, Jamal Sellami, secara blak-blakan menyatakan bahwa kunci kesuksesan adalah memiliki pemain yang berlaga di kompetisi yang lebih kuat. Data membuktikan: Maroko memiliki 20 pemain di Eropa, sementara Yordania hanya satu pemain—Musa Al-Taamari di Rennes. Bahkan Jepang, yang menjadi salah satu tim Asia terbaik, memiliki 23 pemain di Eropa, namun secara kolektif tim-tim Asia lainnya masih tertinggal jauh.
Bagi Indonesia, yang saat ini tengah giat membangun sepak bola nasional melalui naturalisasi dan pengembangan liga, pelajaran dari kontras Afrika-Asia ini sangat relevan. Investasi jangka panjang pada pembinaan usia muda dan pengiriman pemain ke kompetisi Eropa menjadi kunci yang tak bisa ditawar. Tanpa itu, Indonesia berisiko terus tertinggal dalam persaingan sepak bola global, terutama jika ingin bersaing di ajang Piala Dunia di masa depan.
Ke depan, Asia harus segera melakukan introspeksi besar-besaran. Apakah konfederasi sepak bola Asia (AFC) akan mengikuti jejak Afrika dengan menggenjot program pengembangan akar rumput dan mendorong pemainnya merantau ke Eropa? Atau justru akan terus terpuruk di bawah bayang-bayang kebangkitan Afrika? Jawabannya akan menentukan peta kekuatan sepak bola dunia dalam satu dekade mendatang.



