Perebutan Enzo Maresca: Manchester City vs Chelsea, Kompensasi €20 Juta
Baca dalam 60 detik
- Manchester City mengonfirmasi pembicaraan rahasia dengan Enzo Maresca sejak musim gugur 2025, saat ia masih menjabat pelatih kepala Chelsea.
- Chelsea mengecam pendekatan City yang dinilai melanggar kontrak, memicu paket kompensasi mencapai €20 juta antara kedua klub.
- Maresca secara pribadi juga membayar denda kepada Chelsea atas pemutusan kontrak sepihak, menambah kompleksitas transfer ini.

Perebutan pelatih asal Italia, Enzo Maresca, antara Manchester City dan Chelsea memanas setelah kedua klub saling melontarkan pernyataan resmi. City akhirnya mengonfirmasi penunjukan Maresca sebagai manajer baru dengan kontrak hingga 2029, menggantikan Pep Guardiola. Namun, proses tersebut diwarnai tuduhan Chelsea bahwa City telah melakukan pendekatan ilegal sejak musim gugur 2025, yang berujung pada paket kompensasi sebesar €20 juta.
Dalam pernyataan resmi, Chelsea menegaskan bahwa Maresca masih terikat kontrak jangka panjang dan tidak memiliki hak untuk memutuskan kontrak secara sepihak. Klub asal London itu menuding City telah melobi pelatih tersebut sejak tahun lalu, sehingga Maresca mengundurkan diri pada 1 Januari 2026 demi pindah ke Etihad Stadium. Chelsea menyebut tindakan City sebagai bentuk gangguan yang merugikan musim kompetisi mereka.
Menanggapi hal itu, Manchester City mengeluarkan pernyataan balasan yang mengakui adanya pembicaraan rahasia dengan Maresca sejak musim gugur dan musim dingin 2025. City menyebut Maresca telah lama masuk dalam rencana suksesi klub, mengingat ia pernah sukses menangani tim muda City dan memiliki hubungan erat dengan manajemen. City juga mengakui bahwa kepergian Maresca di tengah musim mengganggu Chelsea, namun menegaskan bahwa kompensasi telah disepakati secara bersama.
Nilai kompensasi yang disebut mencapai €20 juta menjadi sorotan utama. Angka tersebut dilaporkan oleh Sky Sport Italia dan dikonfirmasi oleh sumber-sumber Inggris. Selain kompensasi antar klub, Maresca juga dilaporkan harus membayar denda pribadi kepada Chelsea atas pelanggaran kontrak. Hal ini menunjukkan betapa rumitnya negosiasi di balik layar perpindahan pelatih sekelas Maresca.
Bagi pengamat sepak bola, kasus ini menyoroti praktik perburuan pelatih yang kerap menimbulkan gesekan antar klub. Di Indonesia, fenomena serupa jarang terjadi karena struktur kepelatihan yang berbeda, namun kasus ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya etika dalam negosiasi kontrak. Klub-klub Indonesia yang mulai profesional perlu mewaspadai potensi konflik serupa saat merekrut pelatih dari klub lain.
Analis sepak bola Italia, Gianluca Di Marzio, menilai bahwa langkah City menunjukkan ambisi besar untuk mempertahankan dominasi pasca-Guardiola. Sementara itu, Chelsea harus menerima kenyataan kehilangan pelatih yang baru beberapa bulan menangani tim utama. Pertanyaan besarnya, apakah Maresca mampu memenuhi ekspektasi tinggi di City, atau justru menjadi bumerang bagi kedua klub yang sudah mengeluarkan biaya besar?
Ke depan, kasus ini bisa menjadi preseden bagi FIFA untuk memperketat aturan pendekatan terhadap pelatih yang masih terikat kontrak. Jika tidak, persaingan di bursa pelatih akan semakin kacau dan merugikan klub-klub kecil. Bagi Maresca, tekanan kini berada di pundaknya untuk membuktikan bahwa ia layak menjadi pewaris Guardiola.



