Prabowo: Empat Kali Kalah Pilpres, Saya Tak Pernah Ganggu Pemimpin Terpilih
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengaku telah empat kali mengalami kekalahan dalam kontestasi pilpres, namun ia menegaskan tidak pernah menghalangi pemimpin yang mendapat mandat rakyat.
- Pernyataan itu disampaikan dalam Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, menekankan pentingnya elite politik bekerja sama demi stabilitas dan kesejahteraan nasional.
- Prabowo mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan antar elite hanya akan menghambat kemajuan bangsa, seraya mencontohkan negara-negara yang gagal akibat perpecahan.

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah empat kali menelan kekalahan dalam pemilihan presiden, namun ia menegaskan tidak pernah sekali pun mengganggu jalannya pemerintahan yang dipimpin oleh presiden terpilih. Pernyataan itu disampaikan di hadapan peserta Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Jumat (26/6).
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya telah lima kali meminta mandat dari rakyat, tetapi empat di antaranya tidak dikabulkan. Meski demikian, ia memilih untuk tetap menghormati proses demokrasi dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu stabilitas negara. "Empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat," ujarnya.
Prabowo menilai bahwa kegaduhan yang kerap muncul setiap kali pemilu usai justru menjadi penghambat utama dalam upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ia mempertanyakan, jika setiap kekalahan selalu diikuti dengan keributan, kapan bangsa ini bisa fokus membangun? Menurutnya, alternatif dari menerima hasil pemilu adalah konflik berkepanjangan yang hanya akan merugikan masyarakat luas.
Lebih jauh, Presiden menekankan bahwa Indonesia adalah negara dengan keragaman suku, agama, dan pandangan. Namun, ia yakin bahwa setiap anak bangsa yang mencintai tanah air mampu menemukan titik temu. Pelajaran sejarah, kata Prabowo, menunjukkan bahwa bangsa yang elitenya mampu bekerja sama akan lebih mudah bangkit dan berkembang. Sebaliknya, negara yang terus dihantui konflik internal akan sulit mencapai potensi maksimalnya.
Untuk memperkuat argumennya, Prabowo menyoroti sejumlah konflik global yang masih berkecamuk, seperti di Ukraina, Gaza, Palestina, Lebanon, Iran, Yaman, Afghanistan, Myanmar, hingga sengketa Thailand-Kamboja. Menurut dia, semua konflik itu berakar pada ketidakmampuan para elite untuk duduk bersama dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. "Di tengah ini semua, kuncinya adalah antara lain elite yang tidak bisa kerja sama," tegasnya.
"Bukankah itu kewajiban kita sebagai anak bangsa, sebagai pemimpin, sebagai orang terpintar di negara ini? Bukankah itu segala kepintaran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah?" โ Prabowo Subianto
Prabowo juga mengingatkan bahwa setiap orang berhak memiliki pandangan berbeda, namun permusuhan, anarki, dan saling mencaci bukanlah jalan yang produktif. Di saat negara-negara lain terus mengejar kemajuan ekonomi dan kesejahteraan, Indonesia tidak boleh terjebak dalam siklus konflik yang tidak berujung. Ia mengajak seluruh elite untuk mengarahkan kemampuan dan kepemimpinan mereka demi meningkatkan taraf hidup kelompok masyarakat yang paling lemah.
Pernyataan ini muncul di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai ketegangan pasca-pemilu. Dengan pengalaman pribadinya, Prabowo berharap dapat menjadi contoh bahwa kekalahan dalam demokrasi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun bangsa yang lebih kuat dan bersatu.



