Pritam Singh Selamat dari Mosi Tidak Percaya, Partai Pekerja Singapura Tunjukkan Kekompakan
Baca dalam 60 detik
- Pritam Singh mempertahankan posisi Sekretaris Jenderal Partai Pekerja setelah memperoleh suara mayoritas super dalam pemungutan suara rahasia yang dipicu petisi 25 kader.
- Para analis menilai hasil ini membantah narasi perpecahan internal dan justru memperkuat legitimasi Singh sebagai pemimpin partai oposisi utama Singapura.
- Konsolidasi partai ini terjadi di tengah isu hukum masa lalu Singh, namun diyakini tidak akan memengaruhi elektabilitas partai pada pemilu mendatang.

Pemimpin Partai Pekerja (WP) Singapura, Pritam Singh, berhasil mempertahankan jabatannya sebagai sekretaris jenderal setelah para kader partai memberikan dukungan mayoritas super dalam pemungutan suara rahasia, Minggu (28/6). Keputusan ini mengakhiri spekulasi tentang masa depan politiknya pasca-ajakan mundur dari sejumlah kader yang mempertanyakan komitmennya akibat vonis berbohong di depan Komite Hak Istimewa Parlemen.
Pemungutan suara digelar dalam konferensi kader khusus yang dipicu oleh petisi dari 25 anggota kader pada akhir tahun lalu. Mereka menuntut Singh mempertanggungjawabkan hukumannya dan mundur atau menghadapi pemungutan suara rahasia. Namun, dalam konferensi tersebut, tidak ada satu pun kader yang menantang posisinya secara langsung. Singh menegaskan bahwa partainya akan menghormati keputusan demokratis yang telah diambil oleh para kader.
Para pengamat politik menilai hasil ini menunjukkan bahwa Partai Pekerja tetap solid dan kubu yang tidak puas hanyalah minoritas. Asisten Profesor Elvin Ong dari Departemen Ilmu Politik Universitas Nasional Singapura mengatakan bahwa mayoritas warga Singapura sudah siap melupakan episode ini dan lebih khawatir terhadap perkembangan ekonomi serta teknologi yang berdampak pada lapangan kerja. Analis politik independen Felix Tan menambahkan bahwa hasil pemungutan suara justru membantah narasi perpecahan internal dan memperkuat kesan bahwa Singh memiliki mandat yang kuat dari akar rumput partai.
Analis senior urusan internasional Mustafa Izzuddin dari Solaris Strategies Singapura berpendapat bahwa saga ini tidak akan menghambat kemampuan Singh memimpin oposisi atau bertugas di parlemen. Menurutnya, posisi Singh tidak pernah benar-benar terancam karena ia memiliki dukungan besar di kalangan kader, terutama setelah partai berhasil menambah jumlah kursi di parlemen di bawah kepemimpinannya. Sementara itu, Associate Professor Hukum Universitas Manajemen Singapura, Eugene Tan, menyebut hasil ini antiklimaks dan Singh justru keluar dengan cengkeraman yang lebih kuat atas partainya.
Bagi Indonesia, dinamika politik di Singapura ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks penguatan demokrasi internal partai. Partai Pekerja, sebagai oposisi utama, menunjukkan bahwa mekanisme demokrasi internal dapat berjalan tanpa memicu perpecahan yang berkepanjangan. Hal ini menjadi pelajaran bagi partai-partai politik di Indonesia yang kerap menghadapi konflik internal pasca-kongres atau musyawarah nasional. Kemampuan Partai Pekerja untuk segera merapatkan barisan setelah krisis juga menunjukkan kedewasaan politik yang patut ditiru.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah konsolidasi ini akan cukup untuk mempertahankan elektabilitas Partai Pekerja pada pemilihan umum mendatang. Meski isu hukum Singh mungkin akan kembali mencuat, para analis meyakini bahwa hal itu tidak akan signifikan mengingat jarak waktu yang cukup panjang menuju pemilu berikutnya. Partai Pekerja tampaknya berhasil menutup lembaran pahit akibat skandal kebohongan Raeesah Khan di parlemen pada 2021, dan kini fokus kembali pada agenda politik mereka.



