Prabowo Gugat Kemandirian Industri: 81 Tahun Merdeka, Mengapa Belum Punya Mobil Nasional?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo mempertanyakan absennya pabrikan kendaraan nasional di tengah konsumsi 10 juta sepeda motor per tahun.
- Ia menyoroti ketergantungan Indonesia pada impor di sektor strategis, termasuk benih gandum dan produktivitas sawit yang kalah dari Malaysia.
- Prabowo mengklaim Maung MV3 Garuda Limousine sebagai langkah awal, meski sempat bocor dan baru 65-70 persen komponen lokal.

Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap mandeknya industrialisasi nasional: di usia kemerdekaan yang nyaris 81 tahun, Indonesia masih belum memiliki pabrik motor atau mobil buatan sendiri, meski setiap tahun masyarakat membeli sekitar 10 juta unit sepeda motor. Pertanyaan itu ia sampaikan dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Jumat (26/6).
Dalam pidatonya, Prabowo mengaku gelisah melihat besarnya pasar otomotif dalam negeri yang tidak diimbangi dengan lahirnya pabrikan nasional. "Kenapa kita tidak punya? Kita beli mobil, kita beli motor 10 juta motor tiap tahun, kenapa tidak ada pabrik buatan Indonesia?" ujarnya. Ia menegaskan bahwa kegelisahan ini sudah lama ia bawa dalam diskusi dengan akademisi dan pejabat terkait.
Presiden mengungkapkan bahwa ia kerap mendatangi kampus-kampus untuk mencari jawaban atas ketergantungan Indonesia pada produk luar negeri. Ia pernah meminta pandangan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa, serta para profesor Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam forum itu, ia mempertanyakan mengapa Indonesia belum mampu memproduksi benih gandum sendiri dan masih mengimpor, serta mengapa produktivitas kelapa sawit per hektare kalah dari Malaysia.
Meski kritis, Prabowo mengakui bahwa Indonesia mulai bergerak menuju kemandirian otomotif. Ia merasa puas karena setelah dilantik, ia bisa menggunakan Maung MV3 Garuda Limousine, kendaraan kepresidenan yang didesain dan dirakit oleh PT Pindad. Menurutnya, tidak ada mobil di dunia yang seratus persen komponennya berasal dari satu negara. Dengan kandungan lokal 65-70 persen, ia menilai kendaraan itu sudah layak disebut buatan Indonesia.
Namun, perjalanan menuju kemandirian tidak mulus. Prabowo menceritakan bahwa pada bulan-bulan awal penggunaan, Maung MV3 sempat bocor saat hujan deras. Ia pun meminta Dirut Pindad, Sigit P. Santosa, untuk segera memperbaiki kekurangan tersebut. "Enggak apa-apa. Minimal kita mulai, kita harus berani mulai," katanya, menekankan bahwa kegagalan awal adalah bagian dari proses pengembangan produk nasional.
"Saya pulang dari pelantikan saya bisa naik mobil buatan Indonesia. Desainnya Indonesia, dibuat di Indonesia, tidak 100 persen, dan tidak ada mobil di dunia yang 100 persen produknya dari satu negara. Tapi kalau 65 persen-70 persen itu sudah boleh kita klaim buatan Indonesia." β Presiden Prabowo Subianto
Pertanyaan Prabowo mencerminkan kegagalan struktural dalam membangun ekosistem industri hulu-hilir. Selama puluhan tahun, Indonesia lebih banyak menjadi pasar bagi produk otomotif asing ketimbang menjadi produsen. Padahal, dengan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar, potensi untuk memiliki pabrikan nasional seharusnya terbuka lebar. Langkah Pindad menghadirkan Maung bisa menjadi batu loncatan, tetapi masih diperlukan kebijakan yang konsisten dan investasi riset yang masif agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya mengejar kandungan lokal, melainkan membangun rantai pasok komponen yang kompetitif. Apakah Maung MV3 akan menjadi cikal bakal industri otomotif nasional, atau sekadar simbol tanpa dampak sistemik? Jawabannya bergantung pada keberanian pemerintah dan swasta untuk terus berinovasi, serta kesediaan masyarakat untuk menerima produk lokal dengan segala kekurangannya.



