Obat Diabetes Tirzepatide Terbukti Tekan Risiko Serangan Jantung hingga 33%
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 53.000 pasien menunjukkan tirzepatide menurunkan risiko kejadian kardiovaskular mayor sebesar 1,4 poin persentase dibandingkan sitagliptin.
- Penurunan risiko infeksi serius dan kematian terkait infeksi turut diamati, mengindikasikan mekanisme perlindungan yang lebih luas.
- Para ahli menunggu konfirmasi manfaat jangka panjang melalui uji acak terkontrol sebelum rekomendasi klinis diperluas.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal The BMJ mengungkap bahwa tirzepatide, bahan aktif dalam obat diabetes Mounjaro dan Zepbound, mampu menurunkan risiko serangan jantung hingga 33 persen pada pasien diabetes tipe 2 yang juga memiliki penyakit jantung. Temuan ini memperkuat posisi obat golongan GLP-1 sebagai terapi yang tidak hanya mengendalikan gula darah, tetapi juga melindungi organ vital.
Penelitian yang menganalisis data praktik klinis dari hampir 53.000 pasien ini membandingkan efek tirzepatide dengan sitagliptin, obat diabetes lain yang dianggap netral terhadap kardiovaskular. Setelah satu tahun, kelompok yang menerima tirzepatide menunjukkan risiko kejadian kardiovaskular mayor (MACE) sebesar 2,9 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 4,4 persen pada kelompok sitagliptin. Dengan kata lain, untuk setiap 70 pasien yang beralih ke tirzepatide, satu kasus serangan jantung, stroke, atau kematian dapat dicegah.
Nils Krรผger, penulis utama studi dari Brigham and Women's Hospital di Boston, menegaskan bahwa manfaat obat ini tidak hanya terbatas pada penurunan berat badan atau kontrol gula. "Kurva kejadian kardiovaskular mulai terpisah lebih awal, sebelum penurunan berat badan yang signifikan terjadi, yang mengindikasikan adanya efek langsung pada pembuluh darah atau peradangan," ujarnya. Temuan ini juga menunjukkan penurunan risiko infeksi serius dan kematian terkait infeksi, yang mengisyaratkan mekanisme perlindungan yang lebih kompleks.
Di Indonesia, prevalensi diabetes tipe 2 yang terus meningkat menjadikan temuan ini sangat relevan. Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 19,5 juta orang Indonesia hidup dengan diabetes, dan banyak di antaranya berisiko tinggi mengalami komplikasi kardiovaskular. Jika manfaat tirzepatide terkonfirmasi lebih lanjut, obat ini berpotensi menjadi andalan baru dalam strategi pencegahan penyakit jantung pada populasi diabetes, meskipun akses dan biaya masih menjadi tantangan.
Cheng-Han Chen, ahli jantung intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center, menyebut obat ini sebagai salah satu kelas terapi paling berdampak dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ia mengingatkan bahwa masih diperlukan uji acak terkontrol untuk memastikan manfaat jangka panjang dan memperluas indikasi pada pasien tanpa penyakit kardiovaskular yang sudah ada. Sanjeev Kumar Gulati dari Baptist Health South Florida juga menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk menentukan pasien mana yang paling diuntungkan.
Ke depan, pertanyaan krusial yang muncul adalah apakah efek perlindungan ini bertahan selama bertahun-tahun dan apakah dapat direplikasi di berbagai sistem kesehatan, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Dengan semakin banyaknya bukti ilmiah, tirzepatide mungkin tidak hanya menjadi obat diabetes, tetapi juga pilar pencegahan penyakit jantung global. Namun, keputusan untuk menggunakannya harus tetap berdasarkan pertimbangan individual dan ketersediaan akses.



