Rano Karno: Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Jakarta Menuju Kota Global
Baca dalam 60 detik
- Peringkat Global City Index Jakarta naik dari 74 ke 71 dalam delapan bulan pertama kepemimpinan Pramono-Rano.
- Jumlah RW kumuh di Jakarta turun 50 persen menjadi 211 berkat partisipasi warga dan sinergi pemda.
- Pemprov DKI menargetkan Jakarta masuk 50 besar kota global pada 2025, didorong integrasi infrastruktur dan layanan digital.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan bahwa transformasi Jakarta menjadi kota global tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama erat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan pemerintah pusat. Tanpa kolaborasi lintas sektor, target ambisius Jakarta untuk bersaing di kancah internasional hanya akan menjadi wacana.
Dalam talkshow Indonesia Forward bertajuk 'Jakarta 499: Melangkah ke Era Baru Kota Dunia' yang digelar Jumat (26/6), Rano memaparkan sejumlah capaian nyata yang diraih dalam delapan bulan pertama masa jabatan Gubernur Pramono Anung dan dirinya sejak dilantik pada 20 Februari 2025. Salah satu indikator paling mencolok adalah peningkatan peringkat Jakarta dalam Global City Index dari posisi 74 menjadi 71. Rano optimistis pada Oktober 2025 Jakarta bisa mendekati peringkat 65, dan menargetkan masuk ke dalam jajaran 50 besar kota global.
Namun, Rano mengingatkan bahwa perbaikan peringkat bukan sekadar mengejar pengakuan internasional. Menurutnya, tujuan utama adalah meningkatkan kesejahteraan warga. "Tidak ada gunanya kita membangun gedung, tapi kalau manusianya gagal," ujarnya. Ia mencontohkan penurunan jumlah Rukun Warga (RW) kumuh di Jakarta dari lebih dari 400 menjadi 211 dalam satu tahun—sebuah penurunan sekitar 50 persen. Rano menekankan bahwa pencapaian ini bukan semata kerja gubernur dan wakil gubernur, melainkan karena warga Jakarta mau diatur dan berkolaborasi.
Pembangunan infrastruktur yang terintegrasi juga menjadi prioritas. Salah satu contoh konkret adalah penyelesaian akses menuju Jakarta International Stadium (JIS). Sebelumnya, kawasan tersebut terkendala minimnya fasilitas pendukung seperti stasiun kereta dan area parkir. Melalui kerja sama dengan Kementerian Perhubungan, stasiun kereta dibangun, sementara Ancol difungsikan sebagai area parkir yang dihubungkan dengan jembatan penyeberangan. Rano menyebut kolaborasi ini akan membantu kelancaran saat pertandingan sepak bola maupun konser.
Langkah-langkah tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045 yang menempatkan kolaborasi sebagai fondasi. Pemprov DKI melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan perkotaan, mulai dari perubahan iklim, pengelolaan lingkungan, transportasi, hingga transformasi digital. Selain pembangunan fisik, penguatan tata kelola pemerintahan dan digitalisasi layanan publik terus didorong untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ke depan, tantangan terbesar Jakarta adalah menjaga momentum dan memastikan manfaat pembangunan dirasakan merata. Pertanyaannya, mampukah kolaborasi lintas sektor ini dipertahankan dan diperluas, terutama ketika tekanan politik dan anggaran semakin kompleks?



