Dokter Hati Paling Kontroversial di India: Antara Pahlawan dan Provokator
Baca dalam 60 detik
- Dr. Cyriac Abby Philips, dikenal sebagai 'Liver Doc', memiliki 300.000 pengikut di X dan telah menghadapi 16 tuntutan hukum akibat kritiknya terhadap pengobatan alternatif.
- Ia mengadopsi persona keras di media sosial untuk menarik perhatian pada bahaya jamu herbal dan alkohol, sementara di klinik ia dikenal sebagai dokter yang sabar dan penuh empati.
- Perjuangannya mengungkap risiko pengobatan tradisional India relevan bagi Indonesia, di mana jamu dan suplemen herbal juga marak tanpa regulasi ketat.

Di balik persona garang yang sering melontarkan cemoohan di media sosial, Dr. Cyriac Abby Philips—dikenal sebagai "Liver Doc"—adalah seorang hepatologis yang lembut dan penuh perhatian saat menangani pasien di rumah sakitnya di Kochi, India. Namun, perbedaan mencolok antara karakter daring dan luringnya justru menjadi kunci pengaruhnya: ia sengaja membangun citra kontroversial demi menyelamatkan nyawa.
Philips, yang diikuti lebih dari 300.000 orang di X, telah menjadi salah satu figur medis paling terpolarisasi di India. Pendukungnya memujinya sebagai pejuang kedokteran berbasis bukti, sementara kritikus mengecapnya sebagai provokator yang haus perhatian. Ia menyebut homeopati sebagai "obat palsu", melabel praktisi alternatif sebagai dukun, dan kerap terlibat perseteruan sengit dengan selebritas. Akibatnya, Kementerian Ayush—badan federal yang mengawasi pengobatan tradisional India—telah mengadakan dua rapat khusus untuk membahasnya. Dalam enam tahun, Philips menghadapi 16 perkara hukum, beberapa masih berjalan.
Namun, saat ditemui di kliniknya, Philips tampil tenang dan berbicara dengan nada rendah. Ia mengakui bahwa persona daringnya adalah topeng yang sengaja dikenakan. "Mereka membenci saya, tetapi mereka tidak bisa membatalkan informasi yang saya berikan," katanya. "Kadang Anda harus berisik untuk didengar. Saya sengaja mengejar troll agar mereka tidak mengalihkan perhatian dari pesan saya."
Target utama kritiknya adalah Ayurveda—sistem pengobatan tradisional India yang diyakini jutaan orang dan didukung pemerintah—serta konsumsi alkohol. Philips berargumen bahwa prinsip-prinsip Ayurveda tidak berdasarkan logika ilmiah dan menolak mengakui kegagalannya. Ia telah menerbitkan banyak studi tinjauan sejawat tentang cedera hati akibat obat herbal India. Ketika Kementerian Ayush menantang salah satu studinya, ia merespons dengan sanggahan ilmiah terperinci.
Perjalanan Philips menuju profesi kedokteran tidaklah mulus. Ia gagal dalam ujian masuk kedokteran pada percobaan pertama dan menghabiskan sembilan bulan di pusat bimbingan belajar. Ia baru benar-benar menemukan panggilannya saat menjalani MD di Kolkata, di rumah sakit umum dengan 3.500 tempat tidur yang kekurangan obat dan peralatan. Di sana ia menyaksikan dokter berjuang dengan sumber daya terbatas, namun pasien tetap bahagia. "Saya belum pernah melihat hubungan antarmanusia seperti itu sebelumnya," kenangnya.
Keputusannya untuk vokal di media sosial dipicu oleh kasus seorang anak enam tahun yang mengalami gagal hati akut setelah diberi ramuan herbal buatan sendiri. "Anda tidak tahu mimpi buruk yang saya alami selama dua minggu berusaha menyelamatkan anak itu," ujarnya. Sejak itu, ia mendalami ilmu dan sejarah pengobatan alternatif, serta mulai membagikan studi kasusnya secara daring. Reaksi keras justru datang dari masyarakat yang memiliki keyakinan kuat pada pengobatan tradisional.
Biaya pribadi yang harus dibayar Philips sangat besar. Ia menghabiskan jutaan rupee untuk biaya hukum, meskipun beberapa pengacara membantunya secara pro bono. Seorang kolega dekatnya meninggalkan India setelah ditahan untuk diinterogasi terkait makalah yang mereka tulis bersama. Beberapa peneliti kini enggan mencantumkan nama mereka dalam publikasi bersamanya. Namun, yang paling berat adalah ancaman terhadap keluarganya. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan hal itu. "Saya serius berpikir, jika orang tahu siapa anggota keluarga saya, mereka bisa melakukan apa pun. Saya bisa terluka. Atau keluarga saya bisa terluka."
Meski demikian, Philips tidak berniat berhenti. "Saya ingin anak-anak saya mengingat saya sebagai seseorang yang memperjuangkan apa yang diyakininya benar," katanya. Di Indonesia, perjuangan Philips relevan mengingat maraknya jamu dan suplemen herbal yang beredar tanpa pengawasan ketat. Kasus kerusakan hati akibat obat tradisional juga kerap dilaporkan. Pertanyaannya, akankah muncul figur seperti Philips yang berani bersuara lantang di tengah kuatnya budaya pengobatan alternatif di tanah air?



