Raja Charles dan Camilla Tak Lagi Tinggal di Buckingham Palace, Sebuah Era Berakhir
Baca dalam 60 detik
- Raja Charles III dan Ratu Camilla memutuskan tidak menempati Buckingham Palace sebagai kediaman pribadi setelah renovasi £369 juta selesai, memilih tetap di Clarence House.
- Keputusan ini memutus tradisi 187 tahun monarki Inggris yang menjadikan istana tersebut sebagai rumah utama, meski tetap digunakan untuk kegiatan seremonial dan kerja.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya membuka akses publik lebih luas ke istana bersejarah, sekaligus menandai perubahan gaya hidup kerajaan yang lebih efisien.

Raja Charles III dan Ratu Camilla secara resmi memutuskan untuk tidak kembali menempati Buckingham Palace sebagai kediaman pribadi setelah proyek renovasi senilai £369 juta rampung pada Maret mendatang. Keputusan ini mengakhiri tradisi panjang yang telah berlangsung sejak Ratu Victoria menjadikan istana tersebut sebagai rumah utama monarki Inggris pada 1837.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan James Chalmers, Keeper of the Privy Purse, pasangan kerajaan akan tetap menggunakan Clarence House sebagai tempat tinggal mereka di London. "Setelah pertimbangan matang, dan untuk meningkatkan akses publik secara signifikan, Raja dan Ratu memutuskan untuk tidak menjadikan Buckingham Palace sebagai kediaman pribadi," ujar Chalmers. Meski demikian, mereka masih akan memiliki akses ke ruang pribadi di istana untuk digunakan selama jam kerja, dan ruang tersebut bisa difungsikan sebagai tempat tinggal di masa depan.
Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam sejarah monarki Inggris. Buckingham Palace selama hampir dua abad menjadi simbol kekuasaan dan pusat kehidupan kerajaan. Namun, dengan biaya renovasi yang sangat besar—mencapai lebih dari Rp7 triliun—pemerintah Inggris dan pihak istana menilai perlu ada optimalisasi fungsi bangunan. Istana akan tetap menjadi pusat seremonial dan operasional, tempat Raja Charles mengadakan acara kenegaraan, pesta kebun, dan pertemuan resmi lainnya.
Menariknya, tradisi baru ini tampaknya akan berlanjut ke generasi berikutnya. Pangeran William, yang kini menjadi pewaris takhta, dikabarkan juga tidak berencana menempati Buckingham Palace saat menjadi raja nanti. Ia dan istrinya, Catherine, Putri Wales, beserta ketiga anak mereka—Pangeran George (12), Putri Charlotte (11), dan Pangeran Louis (8)—dilaporkan betah tinggal di Forest Lodge, Windsor. Keputusan ini mencerminkan pergeseran gaya hidup kerajaan yang lebih modern dan efisien, jauh dari kemegahan istana yang kaku.
Seorang juru bicara Istana Buckingham menegaskan bahwa bangunan tersebut tetap menjadi "jantung monarki yang berdetak, hanya bukan tempat untuk beristirahat." Istana akan tetap menjadi "sarang lebah yang sibuk" dengan berbagai aktivitas kerajaan. "Yang Mulia masih memiliki kasih sayang yang besar terhadap Buckingham Palace dan rasa hormat yang mendalam terhadap perannya dalam kehidupan kerajaan dan publik," tambah sang juru bicara. "Ini akan tetap menjadi rumah kerja, tetapi kami berupaya memperluas akses publik untuk memaksimalkan manfaat nasional dari bangunan yang didanai publik."
Bagi publik Indonesia, keputusan ini mungkin tampak sebagai urusan internal kerajaan Inggris. Namun, Buckingham Palace adalah salah satu ikon wisata global yang paling banyak dikunjungi, termasuk oleh wisatawan Indonesia. Dengan rencana pembukaan akses publik yang lebih luas, kunjungan ke istana bisa menjadi lebih menarik dan terjangkau. Selain itu, langkah ini juga mencerminkan tren global di kalangan keluarga kerajaan dan kepala negara untuk lebih transparan dan efisien dalam pengelolaan aset bersejarah—sebuah pelajaran yang bisa diadaptasi dalam konteks pengelolaan aset negara di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Buckingham Palace benar-benar kehilangan fungsi residensialnya selamanya? Atau justru dengan menjadi lebih terbuka, ia akan menemukan peran baru sebagai pusat budaya dan pariwisata yang lebih hidup? Yang jelas, keputusan Raja Charles ini menandai babak baru dalam sejarah monarki Inggris, di mana tradisi dan modernitas berusaha berjalan beriringan.



