Sugakiya, Mie Ramen Ikonik Nagoya, Ekspansi ke Kanto Setelah 20 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Rantai ramen Sugakiya akan membuka dua gerai di Kanagawa pada musim gugur-musim dingin 2025, menandai kembalinya ke wilayah Kanto setelah dua dekade.
- Dikenal sebagai 'makanan jiwa' Nagoya, Sugakiya mengandalkan basis tonkotsu dan menu dessert yang variatif untuk merebut hati konsumen baru.
- Ekspansi ini mengindikasikan strategi pertumbuhan agresif merek lokal Jepang di tengah persaingan ketat industri ramen nasional.

Rantai ramen ikonik asal Nagoya, Sugakiya, akhirnya kembali mengincar pasar Kanto setelah absen hampir dua dekade. Dua gerai baru akan dibuka di Prefektur Kanagawa antara musim gugur dan musim dingin tahun ini, menandai langkah ekspansi signifikan merek yang telah lama menjadi 'makanan jiwa' masyarakat Aichi.
Sugakiya selama ini identik dengan basis tonkotsu yang kaya rasa dan telah mengakar kuat di kawasan Tokai. Namun, selama 20 tahun terakhir, kehadirannya di Kantoโpusat ekonomi dan populasi Jepangโnyaris tidak ada. Keputusan membuka dua toko di Kanagawa menunjukkan ambisi untuk menjangkau konsumen baru di luar wilayah asalnya.
Menurut pengamat industri ritel makanan, langkah ini bukan tanpa risiko. Pasar ramen di Tokyo Raya sangat kompetitif, dengan pemain besar seperti Ichiran, Ippudo, dan merek lokal yang sudah mapan. Namun, Sugakiya memiliki keunggulan diferensiasi: selain ramen, mereka menawarkan pilihan dessert yang luas, sesuatu yang jarang menjadi fokus utama rantai ramen lain. Strategi ini bisa menjadi daya tarik tambahan bagi konsumen yang mencari pengalaman bersantap lebih lengkap.
Bagi penggemar ramen di Indonesia, ekspansi Sugakiya mungkin tidak langsung terasa dampaknya. Namun, fenomena ini mencerminkan tren global di mana merek makanan regional berani keluar dari zona nyaman untuk merebut pangsa pasar baru. Di Indonesia sendiri, merek ramen asal Jepang seperti Marugame Udon dan Hokkaido Ramen Santouka telah sukses beradaptasi dengan selera lokal. Sugakiya, dengan profil rasa yang lebih 'rumahan', berpotensi mengikuti jejak serupa jika suatu saat memutuskan berekspansi ke Asia Tenggara.
Keberhasilan Sugakiya di Kanagawa akan menjadi ujian penting. Jika respons positif, bukan tidak mungkin gerai-gerai berikutnya akan menyusul di Tokyo dan prefektur sekitarnya. Pertanyaan yang menggantung: apakah merek 'soul food' ini mampu bertahan di tengah gempuran kompetisi Kanto, atau justru akan kembali meredup seperti dua dekade lalu?



