Gempa 6,6 Guncang Filipina Selatan, Warga Diimbau Waspada Gempa Susulan
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 6,6 magnitudo mengguncang Sarangani, Filipina selatan, Jumat malam, tanpa potensi tsunami.
- Pusat gempa berada di kedalaman 10 km, sekitar 90 km barat daya Pulau Balut, memicu kekhawatiran gempa susulan.
- Wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu mewaspadai aktivitas seismik tinggi di Cincin Api Pasifik.

Gempa bumi berkekuatan 6,6 magnitudo mengguncang wilayah pesisir selatan Filipina pada Jumat (26/6) malam, memicu peringatan akan adanya gempa susulan namun tidak menimbulkan ancaman tsunami. Badan seismologi setempat mencatat pusat gempa berada di kedalaman dangkal, meningkatkan risiko guncangan lanjutan.
Berdasarkan laporan Philippine News Agency (PNA) yang mengutip Philippine Institute of Volcanology and Seismology (Phivolcs), gempa terjadi pukul 19.34 waktu setempat. Episentrum terletak 90 kilometer barat daya Pulau Balut, di perairan lepas pantai Davao Occidental, dengan kedalaman hanya 10 kilometer. Guncangan dirasakan cukup kuat di wilayah sekitar, namun belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa.
Phivolcs menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, namun masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. "Gempa susulan diperkirakan terjadi, tetapi tidak ada ancaman tsunami dari gempa ini," demikian pernyataan resmi yang dikutip PNA. Wilayah Filipina bagian selatan memang dikenal sebagai salah satu zona seismik paling aktif di dunia.
Filipina merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), jalur seismik berbentuk tapal kuda yang membentang di sepanjang Samudra Pasifik. Negara ini kerap dilanda gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami. Aktivitas tektonik di kawasan ini juga berdampak langsung pada Indonesia, yang berada di jalur yang sama. Gempa di Filipina selatan sering kali diikuti peningkatan aktivitas seismik di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi dan Maluku.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin memantau pergerakan lempeng di kawasan timur Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. Masyarakat di wilayah rawan gempa, seperti Sulawesi Utara dan Maluku Utara, diimbau untuk selalu memahami jalur evakuasi dan prosedur keselamatan.
Para ahli seismologi menilai gempa dangkal seperti ini berpotensi memicu kerusakan jika terjadi di dekat pemukiman padat. Kedalaman 10 km termasuk kategori sangat dangkal, sehingga guncangan di permukaan bisa terasa kuat. Meski episentrum berada di laut, jarak yang cukup jauh dari daratan utama Filipina mengurangi risiko dampak langsung.
Ke depan, aktivitas seismik di kawasan Cincin Api diperkirakan masih akan tinggi. Pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa siap negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam menghadapi potensi gempa besar berikutnya yang bisa memicu tsunami regional.



