Bank Sentral Borong Emas, Cadangan Tertinggi dalam 50 Tahun: Sinyal Denuklirisasi Dolar?
Baca dalam 60 detik
- Bank sentral global kini mengoleksi lebih dari 36.000 ton emas, level tertinggi sejak 1975, dengan laju pembelian rata-rata 1.000 ton per tahun dalam empat tahun terakhir.
- Peningkatan ini didorong oleh kekhawatiran terhadap sanksi finansial AS-Uni Eropa, terutama setelah pembekuan aset Rusia, serta kebutuhan diversifikasi cadangan di tengah ketidakpastian geopolitik.
- Fenomena ini menandai pergeseran perlahan dari dominasi dolar AS, meski emas masih menjadi porsi kecil dari total cadangan global.

Bank sentral di seluruh dunia tengah menambah porsi emas dalam cadangan devisa mereka dengan laju yang belum pernah terlihat dalam setengah abad terakhir. Data terbaru menunjukkan total kepemilikan emas resmi kini melampaui 36.000 ton, angka tertinggi sejak 1975, seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran akan efektivitas sanksi finansial sebagai alat tekanan.
Menurut World Gold Council, rata-rata pembelian emas oleh bank sentral dalam empat tahun terakhir mencapai 1.000 ton per tahun โ dua kali lipat dari rata-rata dekade sebelumnya. Lonjakan ini dimulai setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, ketika Amerika Serikat dan sekutunya membekukan sekitar US$300 miliar aset bank sentral Rusia serta memutus aksesnya ke sistem SWIFT. Langkah tersebut memicu kekhawatiran di negara-negara emerging market bahwa aset berbasis dolar AS tidak lagi seaman yang diperkirakan.
Fenomena ini tidak merata secara geografis. Sejak 2009, pembelian emas didominasi oleh bank sentral negara berkembang, terutama Rusia, China, Turki, India, dan Kazakhstan. Survei World Gold Council mengungkapkan bahwa 90% responden menyebut kinerja emas saat krisis sebagai alasan utama. Namun, faktor baru yang menonjol adalah perlindungan terhadap sanksi finansial. Sekitar 37% bank sentral negara berkembang mengaku khawatir terhadap sanksi atau mengantisipasi perubahan sistem moneter internasional.
Bagi Indonesia, tren ini membawa implikasi strategis. Bank Indonesia (BI) tercatat memiliki cadangan emas sekitar 78 ton, relatif kecil dibandingkan negara tetangga seperti India (lebih dari 800 ton). Di tengah volatilitas rupiah dan ketergantungan pada utang luar negeri, porsi emas yang lebih besar dapat menjadi bantalan saat krisis. Namun, BI selama ini lebih memilih instrumen valas dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas. Keputusan untuk menambah emas harus mempertimbangkan likuiditas dan biaya penyimpanan yang lebih tinggi dibandingkan aset finansial lainnya.
Pergeseran ini juga mengubah komposisi cadangan global. Riset Bank Sentral Eropa menunjukkan bahwa porsi emas (27%) kini lebih besar dari kepemilikan US Treasury (22%), yang selama puluhan tahun dianggap sebagai aset paling aman. Meski demikian, emas masih hanya sebagian kecil dari total cadangan global, dan langkah ini lebih merupakan diversifikasi daripada de-dolarisasi penuh. Seperti diingatkan oleh para analis, menjual emas di saat harga rendah โ seperti yang dilakukan Australia pada 1997 dan Inggris pada 1999-2002 โ bisa menjadi bumerang. Keputusan bank sentral untuk terus menimbun emas kemungkinan akan bertahan selama ketidakpastian ekonomi dan risiko geopolitik masih tinggi, namun kecil kemungkinan akan kembali ke era standar emas.



