Gempa Kembar Venezuela: 188 Tewas, Tim Penyelamat Kewalahan Hadapi Skala Bencana
Baca dalam 60 detik
- Dua gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela utara dalam selang kurang dari semenit, menewaskan sedikitnya 188 orang dan melukai 1.520 lainnya.
- Proses evakuasi terhambat kurangnya peralatan berat dan personel terlatih, sementara korban masih terperangkap di reruntuhan bangunan yang runtuh.
- Bantuan internasional mulai mengalir, termasuk dari Amerika Serikat yang menjanjikan US$150 juta, namun kerusakan bandara utama di La Guaira mempersulit distribusi logistik.

Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela utara pada Rabu malam (24/6) telah menewaskan sedikitnya 188 orang dan melukai 1.520 jiwa, menurut pernyataan resmi Kepala Majelis Nasional Jorge Rodriguez. Gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala Richter yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari satu menit itu menghancurkan bangunan di sepanjang pesisir utara, memicu kepanikan massal, dan membuat ribuan warga mengungsi ke jalan-jalan.
Wilayah paling parah terdampak adalah negara bagian La Guaira, tepat di utara Caracas. Di kota pesisir itu, warga masih berupaya menolong korban yang terjebak di bawah puing-puing, namun keterbatasan alat berat dan personel penyelamat membuat proses evakuasi berjalan lambat. Seorang warga, Dani Rizo (48), menceritakan bagaimana seorang gadis kecil berteriak minta tolong selama berjam-jam sebelum akhirnya meninggal dunia. "Kami butuh personel militer untuk membantu mengeluarkannya," ujarnya.
Di lokasi lain, tiga orang masih terdengar hidup di bawah reruntuhan sebuah gedung. Antonio Bermudez, warga setempat, mengaku frustrasi karena tidak memiliki alat untuk menolong mereka. "Kami tidak punya alat. Tidak ada yang bisa kami lakukan," katanya. Seorang dokter di Rumah Sakit Domingo Luciani, yang enggan disebut namanya, mengatakan anak-anak tiba sendirian di ambulans setelah dievakuasi. "Beberapa anak bisa menyebutkan nama, yang lain datang dengan gelang identitas di lengan mereka," ungkapnya.
Presiden sementara Delcy Rodriguez mengunjungi La Guaira pada Kamis dan menetapkan kawasan itu sebagai "zona bencana". Direktur Komite Penyelamatan Internasional (IRC) untuk Venezuela, Nicole Kast, menyebut situasi ini "bencana besar". Kondisi diperparah dengan penjarahan yang terjadi di sebuah supermarket setempat, seperti disaksikan wartawan AFP.
Bantuan internasional mulai berdatangan. Swiss, Spanyol, Prancis, Portugal, dan Meksiko mengirimkan tim spesialis dan penyelamat. China, India, Brasil, dan Iran juga menawarkan bantuan. Paus Leo XIV mengirimkan bantuan awal โฌ100.000, sementara Amerika Serikat mengumumkan mobilisasi dana US$150 juta. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan respons pemerintah AS akan "besar, cepat, dan efektif".
Namun, upaya penyelamatan terhambat oleh kerusakan parah di Bandara Internasional La Guaira, yang merupakan pintu masuk utama bantuan. Bandara itu ditutup setelah mengalami kerusakan serius. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan "sangat berduka" atas bencana ini, sementara Kepala Bantuan PBB Tom Fletcher menekankan bahwa gempa terkuat dalam 126 tahun ini memerlukan "upaya kolektif yang masif".
Venezuela terletak di batas lempeng tektonik Karibia dan Amerika Selatan, namun gempa signifikan terakhir terjadi pada 1997 yang menewaskan 73 orang. Gempa terbesar sebelumnya adalah pada 1900 dengan magnitudo 7,7. Getaran gempa kali ini terasa hingga Kolombia dan beberapa kota di Brasil utara. Di Caracas, ribuan warga menghabiskan malam di jalan atau di dalam mobil karena takut bangunan mereka runtuh.
Rita Gomez (60) bergegas ke ibu kota setelah melihat di media sosial bahwa gedung tempat tinggal putrinya runtuh dan teleponnya tidak aktif. "Alat berat sudah datang, tetangga sangat kooperatif. Kami percaya kepada Tuhan mereka akan menemukannya hidup-hidup," katanya. Dengan bandara utama lumpuh dan kebutuhan logistik yang sangat besar, tantangan terbesar kini adalah bagaimana mendistribusikan bantuan ke daerah-daerah terisolasi sebelum waktu benar-benar habis.



