Burung Nasar Putih Kembali ke Suaka Margasatwa Kamboja Setelah Satu Dekade
Baca dalam 60 detik
- Spesies burung nasar putih yang terancam kritis terlihat kembali di Suaka Margasatwa Lumphat, Kamboja, setelah sepuluh tahun tidak ada catatan keberadaan.
- Kembalinya burung ini menandai keberhasilan upaya konservasi, termasuk program restoran burung nasar bulanan yang menyediakan makanan tambahan.
- Indonesia, yang memiliki habitat serupa, dapat menjadikan pendekatan konservasi berbasis komunitas ini sebagai referensi untuk melindungi spesies raptor lokal yang terancam punah.

Setelah satu dekade tanpa jejak, burung nasar putih (Gyps bengalensis) yang berstatus kritis terancam punah kembali terlihat di Suaka Margasatwa Lumphat, Kamboja timur laut. Organisasi konservasi NatureLife Cambodia mengonfirmasi bahwa satu individu dewasa terdeteksi dalam sensus rutin Juni lalu, menandai momen langka yang menjadi simbol haruan bagi pemulihan spesies ini di kawasan tersebut.
Catatan terakhir burung nasar putih di lanskap Lomphat terjadi pada 2016, setelah dua insiden keracunan massal. Pada Februari 2014, sedikitnya 16 ekor mati akibat racun, disusul peristiwa serupa pada September 2016 yang menewaskan tiga ekor. Sejak itu, spesies ini dianggap punah secara lokal hingga penampakan terbaru. NatureLife menyebut kembalinya burung nasar putih sebagai pencapaian besar konservasi dan bukti bahwa upaya perlindungan mulai membuahkan hasil.
Selain burung nasar putih, sensus juga menemukan lima burung nasar kepala merah (Sarcogyps calvus), termasuk dua individu muda yang mengonfirmasi keberhasilan perkembangbiakan di dalam suaka. Kehadiran dua spesies kritis ini secara bersamaan menjadi indikator kuat bahwa ekosistem di Lumphat Wildlife Sanctuary mulai pulih. NatureLife secara rutin mengadakan "restoran burung nasar" sebulan sekali untuk menyediakan makanan tambahan, terutama bagi populasi burung nasar kepala merah yang lebih stabil.
Kamboja merupakan rumah bagi tiga spesies burung nasar yang semuanya berstatus kritis: burung nasar kepala merah, burung nasar putih, dan burung nasar paruh ramping (Gyps tenuirostris). Penurunan populasi burung nasar di Asia Tenggara sebagian besar disebabkan oleh keracunan dari pestisida pertanian dan bangkai hewan yang mengandung obat antiinflamasi diklofenak. Upaya konservasi seperti yang dilakukan NatureLife menjadi kunci untuk membalikkan tren kepunahan.
Bagi Indonesia, kabar ini memberikan pelajaran berharga. Indonesia memiliki beberapa spesies burung pemangsa yang terancam, seperti elang Jawa dan elang Flores. Pendekatan konservasi berbasis komunitas, termasuk penyediaan pakan tambahan dan pemantauan rutin, dapat diadaptasi untuk melindungi spesies serupa di Taman Nasional Alas Purwo atau Suaka Margasatwa lainnya. Kolaborasi antara lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, dan masyarakat lokal menjadi faktor penentu keberhasilan, sebagaimana ditunjukkan oleh NatureLife di Kamboja.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah kembalinya burung nasar putih ini bersifat sementara atau menandai pemulihan jangka panjang. NatureLife berencana meningkatkan frekuensi pemantauan dan memperluas area perlindungan untuk memastikan spesies ini dapat berkembang biak kembali. Jika berhasil, Lumphat Wildlife Sanctuary bisa menjadi model bagi kawasan konservasi lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam menyelamatkan spesies yang terancam punah dari ambang kepunahan.



