Blibli Buktikan Diri di Tengah Tekanan Daya Beli: Pendapatan Melonjak 67%
Baca dalam 60 detik
- Blibli mencatat pendapatan Rp7,83 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 67% dibanding periode sama tahun lalu.
- Take rate perusahaan naik ke 9,9% dan beban operasional terhadap TPV turun, menandakan perbaikan profitabilitas.
- Strategi omnichannel dan integrasi ekosistem menjadi kunci Blibli dalam menghadapi persaingan e-commerce yang ketat.

Di saat daya beli masyarakat Indonesia masih tertekan dan persaingan e-commerce kian sengit, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli justru membukukan pertumbuhan pendapatan yang mencengangkan. Emiten yang dikenal dengan platform omnichannel ini mencatat pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp7,83 triliun pada kuartal I-2026, melonjak 67% secara tahunan dari Rp4,69 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan ini tidak hanya didorong oleh satu segmen, melainkan merata di seluruh lini bisnis. Penjualan smartphone yang lebih tinggi, kontribusi agen perjalanan daring (tiket.com), bisnis institusi, serta perluasan toko fisik menjadi motor utama pertumbuhan. Laba bruto pun ikut terdongkrak menjadi Rp1,2 triliun, sejalan dengan fokus perseroan pada pengelolaan marjin yang disiplin.
Yang menarik, Blibli tidak hanya mengejar pertumbuhan topline, tetapi juga berhasil meningkatkan kualitas profitabilitas. Take rate—rasio pendapatan terhadap nilai transaksi—melonjak menjadi 9,9% pada kuartal pertama tahun ini. Di saat yang sama, struktur biaya semakin efisien: beban operasional konsolidasian terhadap total nilai transaksi (TPV) turun dari 7,3% menjadi 6,4%. Alhasil, margin EBITDA terhadap TPV tercatat meningkat 200 basis poin secara tahunan.
CEO dan Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, menegaskan bahwa hasil ini merupakan buah dari eksekusi strategi yang konsisten. "Kami memulai tahun 2026 dengan momentum yang solid. Pendapatan dua digit yang kuat serta peningkatan take rate dan marjin secara keseluruhan adalah bukti bahwa pendekatan kami berhasil," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).
Ke depan, Blibli berencana memperkuat posisi di kategori-kategori strategis seperti elektronik konsumen, elektronik rumah tangga, kebutuhan sehari-hari, home & living, dan gaya hidup. Ekspansi omnichannel akan terus digenjot melalui penambahan toko fisik, optimalisasi logistik, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat layanan pengiriman.
Di sisi ekosistem, integrasi loyalitas lintas platform—menyatukan Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma dalam satu program loyalitas—menjadi senjata utama untuk meningkatkan retensi pelanggan. "Dengan fondasi yang semakin kuat dan fokus pada profitabilitas berkelanjutan, kami optimistis dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham," tambah Kusumo.
Bagi investor dan pelaku industri, kinerja Blibli menjadi sinyal bahwa model omnichannel yang terintegrasi mampu bertahan dan bahkan tumbuh di tengah tekanan ekonomi. Pertanyaannya, apakah Blibli dapat mempertahankan momentum ini sepanjang tahun dan terus mengikis dominasi pemain e-commerce murni yang selama ini mengandalkan diskon besar-besaran?



