Indonesia Butuh Investasi dan Teknologi untuk Menguasai Pasar Baterai Global
Baca dalam 60 detik
- Indonesia memiliki cadangan nikel melimpah yang menjadi modal utama dalam industri baterai kendaraan listrik, namun masih dihadapkan pada tantangan teknologi dan investasi.
- Dominasi baterai LFP impor yang tidak menggunakan nikel mengancam keberhasilan program hilirisasi nikel dalam negeri.
- Pemerintah didorong untuk memperkuat regulasi, investasi hulu, serta membangun pabrik kendaraan listrik lokal guna meningkatkan kandungan lokal.

Indonesia tengah berupaya mewujudkan ambisinya menjadi pemain utama industri baterai kendaraan listrik (EV) global, dengan mengandalkan cadangan nikel yang melimpah sebagai bahan baku strategis. Namun, perjalanan menuju posisi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah tantangan serius, mulai dari kebutuhan investasi teknologi hingga regulasi yang belum sepenuhnya mendukung hilirisasi nikel.
Menurut Profesor Riset BRIN sekaligus Pendiri National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, pembangunan pabrik baterai EV yang terintegrasi dari hulu ke hilir merupakan langkah krusial. Ia menekankan bahwa pengolahan nikel melalui hilirisasi harus mampu menghasilkan produk bernilai tinggi, bukan sekadar bahan mentah. "Kita harus memastikan bahwa setiap tahapan produksi, dari bijih nikel hingga baterai jadi, memiliki pasar yang jelas," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari dominasi kendaraan listrik berbasis baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) yang masuk ke Indonesia. Baterai jenis ini tidak menggunakan nikel, sehingga tidak sejalan dengan program hilirisasi nikel yang digencarkan pemerintah. Evvy menilai, tanpa regulasi yang mendorong penggunaan baterai berbasis nikel seperti NMC (Nickel Manganese Cobalt) atau NCA (Nickel Cobalt Aluminum), investasi di sektor hulu nikel bisa terancam sia-sia.
Selain itu, Evvy menyoroti urgensi penguatan investasi di sektor hulu nikel. Nilai tambah bijih nikel harus ditingkatkan melalui proses pengolahan menjadi material baterai, bukan sekadar diekspor dalam bentuk mentah. Ia juga menekankan pentingnya pengembangan industri daur ulang baterai untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku di masa depan. "Daur ulang bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal ketahanan industri," tambahnya.
Langkah lain yang tak kalah penting adalah pembangunan pabrik kendaraan listrik lokal yang menguasai teknologi. Dengan demikian, kandungan lokal (TKDN) kendaraan listrik dapat meningkat secara signifikan. Evvy berpendapat bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk luar, melainkan harus mampu memproduksi sendiri dengan komponen dalam negeri.
Ke depan, keberhasilan Indonesia menjadi raksasa baterai dunia sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan swasta dalam menyelaraskan kebijakan, menarik investasi teknologi, serta menciptakan pasar yang mendukung produk berbasis nikel. Tanpa langkah konkret, ambisi besar ini hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi.



