IHSG Terjun Bebas 1,13% di Awal Sesi, Sentimen AS dan Kebijakan LPS Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles 67,53 poin ke level 5.931,51 pada perdagangan Jumat pagi, membalikkan penguatan awal setelah data inflasi AS yang panas.
- Tekanan jual meluas dengan 470 saham melemah, dipicu kekhawatiran The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dan kenaikan bunga penjaminan LPS.
- Penerbitan Panda Bond yang akan datang dan data ekonomi domestik yang masih rapuh menambah ketidakpastian bagi investor ritel dan institusi di Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok lebih dari satu persen pada awal perdagangan Jumat (26/6/2026), membalikkan kenaikan sesaat setelah pembukaan. Aksi jual massal yang mendominasi bursa membuat indeks kehilangan 67,53 poin ke posisi 5.931,51 hingga pukul 09.32 WIB, setelah sempat menyentuh level tertinggi 6.045,26.
Sebanyak 470 saham tercatat dalam zona merah, sementara hanya 139 saham menguat dan 350 saham stagnan. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp2,33 triliun dari volume 4 miliar saham dalam 375.600 kali transaksi. Tekanan jual terlihat merata di hampir seluruh sektor, mencerminkan sentimen negatif yang kuat dari pasar global dan domestik.
Dari eksternal, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat pada Mei 2026 melonjak menjadi 4,1% secara tahunan, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Ditambah revisi pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 yang mencapai 2,1% dan klaim pengangguran yang turun ke 215.000, sinyal bahwa perekonomian Negeri Paman Sam masih terlalu panas. Kombinasi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi menguatkan dolar dan memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Di dalam negeri, keputusan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75% untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026 turut membebani sentimen. Langkah ini diambil untuk menjaga kredibilitas di tengah tekanan suku bunga dan pelemahan rupiah, namun di sisi lain menekan likuiditas pasar modal karena investor cenderung beralih ke instrumen perbankan yang lebih aman.
Pemerintah juga memastikan rencana penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan masih berjalan pada awal Juli 2026. Meski instrumen ini bertujuan diversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas akses ke pasar China, ketidakpastian detail teknis dan timing-nya membuat investor wait and see. Bagi investor Indonesia, kombinasi tekanan eksternal dan domestik ini menandakan potensi volatilitas tinggi dalam jangka pendek, terutama menjelang rilis data ekonomi AS berikutnya dan realisasi kebijakan LPS.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah IHSG mampu bertahan di atas level 5.900 atau justru melanjutkan koreksi. Pertanyaan kuncinya: akankah Bank Indonesia merespons dengan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, atau justru ikut menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah? Jawabannya akan menentukan arah bursa dalam beberapa pekan ke depan.



