Iran Berjuang di Tengah Hambatan: Ghalenoei Fokus ke Mesir demi Lolos 16 Besar
Baca dalam 60 detik
- Tim Melli Iran mengantongi dua hasil imbang beruntun melawan Belgia dan Selandia Baru, menjaga asa lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026.
- Pelatih Amir Ghalenoei menyesalkan pembatasan perjalanan oleh otoritas AS yang mempengaruhi performa tim, namun kini situasi mulai membaik.
- Pertandingan melawan Mesir diwarnai isu di luar lapangan, termasuk penunjukan laga sebagai 'Pride Match', yang diabaikan oleh kubu Iran.

Iran masih menyimpan peluang tipis untuk melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026, meski harus menghadapi berbagai rintangan di luar lapangan. Pelatih Amir Ghalenoei menegaskan bahwa satu-satunya fokus timnya adalah meraih kemenangan atas Mesir pada laga pamungkas Grup G, Jumat (26/6) waktu setempat.
Tim berjuluk Team Melli itu berhasil menahan imbang Belgia dan Selandia Baru, hasil yang membuat mereka mengoleksi dua poin dan berada di posisi ketiga klasemen sementara. Dengan kemenangan atas Mesir, Iran masih berpeluang lolos jika hasil pertandingan lain menguntungkan. Namun, perjalanan mereka tidak mulus akibat pembatasan perjalanan yang diterapkan otoritas Amerika Serikat.
Sejak awal turnamen, Iran diwajibkan masuk dan keluar AS hanya dalam waktu singkat menjelang dan setelah pertandingan. Ghalenoei secara blak-blakan menyebut kebijakan itu telah menguras fisik pemain. "Kami secara fisik terpengaruh di dua laga sebelumnya. Sekarang kami lebih bugar dan berada dalam posisi lebih baik," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (25/6).
Pernyataan itu muncul setelah Federasi Sepak Bola Iran mengeluhkan perlakuan petugas imigrasi AS saat tim bertolak dari markas mereka di Meksiko menuju Seattle. Meski demikian, otoritas AS dilaporkan telah melonggarkan pembatasan untuk pertandingan melawan Mesir. Ghalenoei menekankan bahwa akses masuk lebih awal adalah hak yang seharusnya didapat timnya sejak awal.
Konferensi pers yang digelar Kamis berlangsung tegang. Seorang pejabat FIFA membacakan pernyataan dari Federasi Sepak Bola Iran yang membatasi pertanyaan hanya seputar laga melawan Mesir. Namun, Ghalenoei justru memicu diskusi tentang pembatasan perjalanan tanpa diminta. Topik kemudian bergulir ke keputusan panitia lokal yang menetapkan laga Iran vs Mesir sebagai "Pride Match"โsebuah perayaan komunitas LGBTQ+.
Menanggapi hal itu, Ghalenoei memilih bungkam. "Kami akan bersikap positif. Kami tidak akan memikirkan isu lain. Kami hanya ingin membawa kebahagiaan bagi rakyat Iran," katanya. Sikap ini selaras dengan pernyataan pelatih Mesir, Hossam Hassan, yang juga enggan berkomentar soal kontroversi di luar lapangan. "Kami hanya akan bicara soal sepak bola, betapa indahnya olahraga ini dan betapa menyenangkannya pertandingan nanti," tambah Ghalenoei.
Bagi Indonesia, kisah Iran menjadi pengingat betapa politik dan regulasi tuan rumah bisa mempengaruhi performa tim. Meski tidak terlibat langsung, dinamika ini relevan mengingat Indonesia juga kerap menghadapi kendala birokrasi saat bertanding di luar negeri. Selain itu, keberhasilan Iran bertahan di grup berat menunjukkan bahwa disiplin taktik dan mentalitas pantang menyerah bisa menjadi kunci, pelajaran berharga bagi sepak bola nasional.
Pertandingan Iran melawan Mesir akan digelar di Seattle, Jumat malam. Jika Iran menang dan Belgia mengalahkan Selandia Baru, maka tiga tim akan memiliki empat poin dan penentuan lolos akan bergantung pada selisih gol. Skenario dramatis ini membuat laga pamungkas Grup G layak dinanti. Mampukah Iran menembus batas dan menorehkan sejarah?



