IHSG Menguat 1,96% ke 5.999,04, Investor Asing Masih Jual Bersih Rp299 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham domestik ditutup hijau didorong sektor infrastruktur dan saham MORA, ASII, BBCA, meski asing masih lepas saham.
- Kementerian ESDM membantah rumor kenaikan kuota RKAB nikel 2026 menjadi 360 juta ton, meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan harga nikel.
- GGRM akan bagikan dividen Rp800 per saham pada 23 Juli 2026, sementara EMMI bersiap IPO di BEI pada 8 Juli 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis (25/6) dengan penguatan 1,96% ke level 5.999,04, mendekati level psikologis 6.000. Namun, di balik kenaikan tersebut, arus modal asing masih menunjukkan sikap hati-hati dengan mencatatkan aksi jual bersih yang cukup signifikan.
Lonjakan saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 16,30% menjadi motor utama penguatan indeks, diikuti oleh PT Astra International Tbk (ASII) yang naik 6,03% dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menguat 1,69%. Di sisi lain, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) justru menjadi pemberat setelah masing-masing terkoreksi 0,87%, 0,91%, dan 3,13%.
Meski seluruh sektor ditutup positif, sektor infrastruktur memimpin dengan kenaikan 3,81%. Namun, investor asing masih membukukan net sell Rp201,10 miliar di pasar reguler dan total Rp299,00 miliar di seluruh pasar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa optimisme pasar domestik belum sepenuhnya diikuti oleh partisipasi asing, yang mungkin masih menunggu kejelasan kebijakan dan data ekonomi global.
Sentimen positif juga datang dari bantahan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhadap rumor kenaikan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel 2026 menjadi 360 juta ton dari sebelumnya berkisar 260โ270 juta ton. Isu tersebut sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa peningkatan pasokan bijih nikel akan menekan harga global dan berdampak pada emiten seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (NICL), dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH). Namun, Kementerian ESDM menegaskan belum ada keputusan resmi, sehingga kekhawatiran itu mereda. Respons positif terlihat di pasar offshore: ETF EIDO menguat 1,62% dan indeks MSCI Indonesia naik 1,57%.
Analis menilai bahwa jika kuota benar-benar dinaikkan, perusahaan dengan rantai bisnis terintegrasi hingga hilirisasi, seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (NCKL) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), justru diuntungkan karena tambahan pasokan bijih dapat mendukung utilisasi smelter dan fasilitas HPAL. Sebaliknya, emiten yang bergantung pada harga bijih nikel akan tertekan. Namun, dengan bantahan resmi, pasar untuk sementara bernapas lega.
Dari sisi korporasi, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) telah menyelesaikan masa book building pada 22โ24 Juni 2026 dan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026. Perusahaan penyedia peralatan medis untuk fasilitas kesehatan ini menawarkan maksimal 522,86 juta saham baru (30% dari modal ditempatkan) dengan kisaran harga Rp446โRp515 per saham, berpotensi mengantongi dana hingga Rp269,27 miliar. Sebanyak 10% dari saham yang ditawarkan dialokasikan untuk program Employee Stock Allocation (ESA). Dana hasil IPO akan digunakan untuk pembayaran pinjaman, pembangunan pabrik di Cikupa, dan modal kerja.
Sementara itu, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengumumkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp800 per saham, total sekitar Rp1,54 triliun, dengan dividend payout ratio mencapai 98,89%. Meski pendapatan turun 9,41% menjadi Rp89,37 triliun, laba bersih melonjak 58,71% menjadi Rp1,56 triliun berkat efisiensi beban usaha. Dengan harga saham Rp16.900, dividend yield mencapai 4,73%. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 1 Juli 2026, dan pembayaran pada 23 Juli 2026.
Bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum, sejumlah saham direkomendasikan dengan level support dan resistance. TINS (Buy 3610-3620, TP 3660-3700, SL 3380), AYAM (Buy 352-354, TP 364-372, SL 334), INCO (Buy 4540-4550, TP 4600-4700, SL 400), MAPA (Buy 620-630, TP 640-650, SL 600), dan TOWR (Buy 380-384, TP 392-398, SL 362).
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh kepastian kebijakan nikel dan aliran dana asing. Jika Kementerian ESDM benar-benar mempertahankan kuota saat ini, sektor nikel berpotensi kembali menjadi primadona. Namun, jika rumor kenaikan kuota kembali mencuat, volatilitas diperkirakan meningkat. Pertanyaan besarnya: akankah IHSG mampu menembus level 6.000 pada pekan depan?



