Aksi Jual Massal di Bursa Nigeria: Kapitalisasi Pasar Anjlok Rp959 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Bursa Efek Nigeria (NGX) kehilangan hampir N959 miliar dalam sehari akibat tekanan jual di berbagai sektor, dengan indeks utama turun 0,64%.
- Sektor minyak dan gas serta komoditas menjadi yang terpuruk, dipimpin oleh saham Aradel Holdings yang ambles 10%.
- Analis memperkirakan rebound jangka pendek, namun aksi ambil untung dari saham yang sempat naik dapat membatasi pemulihan.

Bursa Efek Nigeria (NGX) mencatat kerugian besar pada Kamis (27/2) setelah aksi jual masif melanda hampir seluruh sektor, menggerus kapitalisasi pasar hingga N958,5 miliar atau setara sekitar Rp959 triliun. Indeks harga saham gabungan (All-Share Index) terperosok 0,64% ke level 233.580,83 poin, menekan return year-to-date menjadi +50,10%.
Tekanan jual terlihat merata di sektor perbankan, asuransi, minyak dan gas, barang konsumen, serta industri. Dari 50 saham yang aktif diperdagangkan, 34 saham ditutup di zona merah, sementara hanya 14 saham yang berhasil menguat. Saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah seperti Aradel Holdings, Wema Bank, dan Oando Plc menjadi motor utama pelemahan indeks.
Koreksi terdalam terjadi pada saham Aradel Holdings yang ambles 10%, disusul DEAPCAP (-10%), dan TRANSEXPR (-9,90%). Sementara itu, WEMABANK turun 4,26% dan OANDO melemah 8,47%. Di sisi lain, saham REDSTAREX memimpin penguatan dengan kenaikan 9,60%, diikuti LEGENDINT (9,09%) dan NEIMETH (7,10%).
Aktivitas perdagangan melemah signifikan. Volume saham yang diperdagangkan turun 19,35% menjadi 393,65 juta lembar, sementara nilai transaksi menyusut 8,19% menjadi N19,21 miliar. Jumlah transaksi juga berkurang 0,92% menjadi 45.813 deal. Saham ACCESSCORP menjadi yang paling aktif dengan volume 39,1 juta unit (9,9% dari total), sedangkan WAPCO memuncaki nilai transaksi dengan N2,2 miliar (11,7% dari total).
Secara sektoral, tidak ada satu pun indeks yang ditutup positif untuk hari kedua berturut-turut. Sektor Minyak & Gas dan Komoditas menjadi yang paling tertekan, masing-masing turun 5,22% dan 3,36%. Sektor Asuransi terkoreksi 2,59%, Perbankan turun 0,28%, dan Barang Konsumen melemah 0,06%. Sementara itu, sektor Barang Industri ditutup flat.
Meskipun tekanan jual masih dominan, para pialang saham memperkirakan pasar berpotensi rebound dalam waktu dekat seiring investor mulai memburu saham-saham yang secara fundamental kuat. Namun, aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham yang sebelumnya mengalami apresiasi tinggi diperkirakan akan membatasi laju pemulihan. Pertanyaannya, akankah sentimen positif dari data ekonomi makro mampu mengimbangi aksi jual yang masih berlangsung?



