Wali Kota New York: Piala Dunia Hasilkan Cukup Uang, Jangan Bebani Suporter
Baca dalam 60 detik
- Wali Kota New York Zohran Mamdani menilai FIFA seharusnya bisa menekan biaya tiket dan akomodasi karena pendapatan turnamen mencapai hampir 9 miliar dolar AS.
- Harga tiket fase grup berkisar 350–5.000 dolar AS, sementara biaya transportasi menuju stadion masih 10 kali lipat tarif normal meski sudah dipotong.
- Pemerintah kota menyediakan 1.000 tiket seharga 50 dolar AS per laga dan zona nonton gratis di setiap borough sebagai upaya menjaga aksesibilitas.

Wali Kota New York Zohran Mamdani melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan harga tiket dan akomodasi Piala Dunia 2026 yang dinilainya terlalu membebani suporter. Menurut Mamdani, pendapatan yang dihasilkan dari turnamen sepak bola terbesar di dunia itu sudah lebih dari cukup untuk menutup seluruh biaya operasional, sehingga tidak seharusnya para penggemar menjadi sasaran komersialisasi berlebihan.
Piala Dunia edisi Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ini tercatat sebagai yang termahal dalam sejarah. Harga tiket untuk pertandingan babak grup berkisar antara 350 hingga 5.000 dolar AS (sekitar Rp5,6 juta hingga Rp80 juta). Tak hanya tiket, biaya transportasi dan penginapan pun melonjak drastis. Tarif kereta dan bus menuju Stadion New York New Jersey sempat dipangkas setelah mendapat protes keras dari suporter, namun masih sepuluh kali lipat dari tarif normal.
Mamdani, yang menjabat sebagai wali kota sejak Januari lalu, menegaskan bahwa FIFA seharusnya bisa membuat turnamen ini lebih terjangkau. "Kami sejak awal ingin Piala Dunia ini menjadi milik semua orang," ujarnya dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live. Ia menyoroti bahwa biaya transportasi menuju stadion yang hampir 100 dolar AS merupakan keputusan yang diambil operator atas dasar tidak ingin merugi, namun hal itu justru mencerminkan tekanan dari perjanjian kota tuan rumah dengan FIFA.
"Menurut saya, pendapatan yang dihasilkan—bukan hanya dari Piala Dunia kali ini, tetapi dari setiap Piala Dunia—sudah lebih dari cukup untuk menutup semua biaya. Suporter tidak seharusnya menjadi pihak yang menutup defisit," tegas Mamdani. Ia juga mengkritik kecenderungan olahraga yang kian dikomodifikasi dan berubah menjadi produk mewah.
Di tengah mahalnya biaya, Pemerintah Kota New York berupaya meredam dampaknya. Mamdani mengaku bangga bisa mengamankan 1.000 tiket seharga 50 dolar AS untuk setiap pertandingan, serta menyediakan zona nonton gratis di setiap borough. "Saat saya menjabat, rencananya zona itu akan berbayar. Saya senang mereka akhirnya menghapus biaya tersebut," katanya. Selain itu, sebanyak 900 bar dan restoran telah mendaftar dalam program paket makanan Piala Dunia seharga 26 dolar AS.
Bagi Indonesia, gelaran Piala Dunia 2026 menjadi momentum penting mengingat animo masyarakat yang tinggi terhadap sepak bola. Meski Timnas Indonesia tidak berlaga, banyak suporter Tanah Air yang berencana menyaksikan langsung pertandingan di Amerika Serikat. Lonjakan harga tiket dan akomodasi ini bisa menjadi pertimbangan serius bagi calon penonton asal Indonesia, yang umumnya lebih sensitif terhadap biaya. Pemerintah Indonesia pun dapat belajar dari langkah New York dalam menyediakan opsi nonton bersama yang terjangkau sebagai alternatif.
Ke depan, kritik Mamdani membuka diskusi lebih luas tentang model bisnis FIFA yang selama ini dianggap kurang berpihak pada suporter akar rumput. Apakah gelaran Piala Dunia selanjutnya akan mampu menyeimbangkan keuntungan komersial dengan aksesibilitas penggemar? Atau justru semakin menjauh dari semangat "football for everyone"?



