Allo Bank Pilih Ekspansi Mitra Bisnis Ketimbang Naikkan Bunga di Tengah Suku Bunga Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Allo Bank tidak serta-merta menaikkan bunga simpanan meski BI-Rate naik 100 bps sejak Mei 2026, mengandalkan efisiensi biaya operasional.
- Strategi utama bank digital ini adalah memperluas kemitraan bisnis untuk menyalurkan kredit sekaligus menekan risiko kredit macet.
- Laba bersih Allo Bank mencapai Rp104 miliar di kuartal I-2026, ditopang pendapatan operasional yang tumbuh 23% secara tahunan.

PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) memilih jalur ekspansi kemitraan bisnis ketimbang menaikkan suku bunga simpanan secara agresif di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Keputusan ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pengendalian biaya dana, sekaligus menekan risiko kredit bermasalah.
BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin secara kumulatif sejak Mei 2026, termasuk kenaikan di luar jadwal pada awal Juni. Terakhir, BI menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni 2026. Kenaikan ini diikuti oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menaikkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) untuk simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75%, berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.
Komisaris Utama Independen Allo Bank, Aviliani, menegaskan bahwa perseroan tidak otomatis menaikkan bunga simpanan mengikuti kenaikan BI-Rate. "Kami tetap melihat struktur biaya yang kami keluarkan. BOPO kami cukup rendah, sehingga cost of fund kami sangat efektif," ujarnya usai RUPS Allo Bank di Jakarta, Kamis (25/6/2026). Dengan efisiensi operasional yang baik, Allo Bank memiliki ruang untuk tidak serta-merta membebani nasabah dengan kenaikan bunga.
Sebagai bank digital, Allo Bank biasanya menawarkan bunga simpanan lebih tinggi dibanding bank umum konvensional. Namun, Aviliani menekankan bahwa penyesuaian bunga tetap mempertimbangkan keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana, serta tidak melampaui batas yang ditetapkan LPS. "Kami melihat berapa kredit yang kami berikan, disesuaikan dengan dana yang kami himpun," tambahnya.
Strategi utama Allo Bank untuk tahun 2026 adalah memperluas kerja sama dengan mitra bisnis. Model bisnis berbasis kemitraan dinilai lebih efektif dibandingkan penyaluran pinjaman langsung ke individu, karena memberikan data transaksi yang lebih terukur. Aviliani menjelaskan, "Dengan ekosistem mitra, kami bisa melihat pola belanja dan perilaku transaksi nasabah, sehingga keputusan pemberian paylater lebih akurat." Pendekatan ini juga berpotensi menekan rasio kredit bermasalah (NPL) di tengah tantangan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah.
Selain memperkuat bisnis paylater, Allo Bank terus mengembangkan layanan transaksi digital lainnya, seperti valuta asing, pembayaran tagihan, dan transaksi harian. Langkah ini bertujuan memperluas basis nasabah dan meningkatkan frekuensi transaksi di platform Allo Bank.
Kinerja keuangan Allo Bank pada kuartal I-2026 menunjukkan hasil positif. Laba bersih setelah pajak mencapai Rp104 miliar, didorong pendapatan operasional yang naik 23% secara tahunan menjadi Rp474 miliar. Capaian ini menjadi modal bagi perseroan untuk menjalankan ekspansi bisnis secara selektif di tengah tekanan suku bunga.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana strategi kemitraan Allo Bank mampu mempertahankan pertumbuhan laba jika BI-Rate terus naik. Dengan efisiensi biaya yang sudah terbukti, Allo Bank tampaknya lebih siap dibanding bank digital lain yang mungkin harus menaikkan bunga simpanan lebih tinggi untuk mempertahankan likuiditas.



