Video 18 Detik Buktikan Kucing Pasir, 'Hantu Gurun' yang Dianggap Punah, Masih Hidup di Libya
Baca dalam 60 detik
- Rekaman amatir tahun 2017 menjadi bukti ilmiah pertama keberadaan kucing pasir (Felis margarita) di Libya setelah spesies itu dinyatakan punah secara lokal.
- Kucing pasir adalah satu-satunya felid yang sepenuhnya beradaptasi dengan gurun hiperkering, mampu bertahan tanpa air dan vegetasi lebat.
- Temuan ini membuka peluang riset konservasi baru di kawasan Sahara dan mengingatkan pentingnya data lapangan di tengah konflik.

Rekaman berdurasi 18 detik yang diunggah fotografer satwa liar Mohammed Almuntasir pada 2017 ke YouTube menjadi bukti material pertama bahwa kucing pasir (Felis margarita), spesies yang selama ini dianggap punah di Libya, masih bertahan di barat daya negara itu. Dalam video tersebut, seekor kucing kecil berwarna pucat tampak menggali pasir di antara bukit-bukit pasir terpencil, mengonfirmasi keberadaan makhluk yang dijuluki "hantu gurun" itu.
Kucing pasir adalah satu-satunya felid di dunia yang berevolusi untuk hidup sepenuhnya di lingkungan gurun sejati. Tidak seperti kucing liar lain yang masih membutuhkan sumber air atau vegetasi lebih lebat, spesies ini mampu bertahan di kondisi hiperkering dengan suhu siang hari melampaui 40 derajat Celsius dan malam hari mendekati titik beku. Adaptasi fisiknya mencakup bulu tebal di telapak kaki yang melindungi dari pasir panas, telinga besar untuk mendeteksi mangsa di bawah pasir, dan warna bulu krem keabu-abuan yang menyatu sempurna dengan lanskap.
Keberadaan kucing pasir di Libya sempat diragukan karena konflik berkepanjangan dan minimnya survei lapangan. Almuntasir, yang merekam video tersebut saat ekspedisi pribadi, awalnya tidak menyadari signifikansi rekamannya. Namun, para ahli kemudian mengonfirmasi bahwa itu adalah dokumentasi pertama spesies ini di Libya dalam beberapa dekade. Menurut peneliti konservasi gurun, temuan ini menyoroti betapa sedikitnya pengetahuan tentang keanekaragaman hayati di kawasan konflik, sekaligus membuka peluang riset baru tentang populasi kucing pasir di Afrika Utara.
Bagi Indonesia, berita ini relevan dalam konteks konservasi spesies langka di habitat ekstrem. Meskipun tidak ada kucing pasir di Nusantara, prinsip adaptasi dan ancaman kepunahan akibat aktivitas manusia serta perubahan iklim berlaku universal. Indonesia memiliki spesies endemik yang juga terancam, seperti harimau sumatra dan badak jawa, yang membutuhkan data lapangan akurat untuk strategi konservasi. Kasus kucing pasir mengingatkan bahwa spesies yang dianggap punah bisa saja bertahan jika habitatnya masih utuh dan tekanan manusia berkurang.
"Rekaman ini adalah pengingat bahwa alam selalu menyimpan kejutan. Di tengah krisis keanekaragaman hayati global, setiap bukti keberadaan spesies yang terancam adalah harapan," ujar seorang ahli ekologi gurun yang tidak disebutkan namanya.
Ke depan, para konservasionis berharap temuan ini mendorong survei lebih sistematis di Libya dan negara Sahara lainnya. Pertanyaan besarnya: apakah populasi kucing pasir di Libya cukup besar untuk bertahan dalam jangka panjang, atau hanya sisa-sisa individu yang terisolasi? Jawabannya akan menentukan langkah perlindungan spesies ini di tengah tekanan perburuan dan degradasi habitat.



