Gempa M5,3 Guncang Tahuna, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi magnitudo 5,3 melanda barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, pada Kamis siang dengan pusat di kedalaman 10 kilometer.
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa dangkal ini tidak memicu gelombang tsunami, namun data awal masih dapat berubah.
- Wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya kembali diingatkan akan risiko seismik tinggi, mengingat posisinya di jalur cincin api Pasifik.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 kembali mengguncang wilayah Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Kamis (25/6/2026) siang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, meskipun pusatnya berada di laut dengan kedalaman yang relatif dangkal.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi tepat pukul 11.03.35 WIB dengan episenter terletak di koordinat 5,50 Lintang Utara dan 125,07 Bujur Timur. Lokasi pusat gempa berada sekitar 215 kilometer arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe. Dengan kedalaman hanya 10 kilometer, gempa ini tergolong gempa dangkal yang umumnya terasa lebih kuat di permukaan.
Meski kekuatannya cukup signifikan, BMKG melalui akun media sosial X (sebelumnya Twitter) menegaskan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Peringatan dini pun tidak dikeluarkan. Namun, BMKG juga menyertakan disclaimer bahwa informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga data hasil pengolahan masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan data dari stasiun pemantau.
Wilayah Sulawesi Utara dan Kepulauan Sangihe memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di pertemuan lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Sepanjang tahun 2026, beberapa gempa dengan magnitudo bervariasi telah tercatat di sekitar daerah ini, mengingatkan warga akan pentingnya kesiapsiagaan bencana.
Menurut catatan BMKG, gempa dangkal dengan magnitudo di atas 5,0 berpotensi menimbulkan kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan yang tidak tahan gempa. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan atau korban jiwa akibat guncangan tersebut. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi warga Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah rawan gempa, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya konstruksi bangunan tahan gempa dan pemahaman prosedur evakuasi. Pemerintah daerah dan BMKG terus mendorong edukasi kebencanaan guna meminimalkan risiko saat gempa besar terjadi.
Ke depan, akurasi data gempa akan terus diperbarui seiring masuknya informasi dari berbagai stasiun seismograf. Pertanyaan yang mengemuka adalah: seberapa siap infrastruktur dan masyarakat di kawasan timur Indonesia menghadapi ancaman gempa yang tak pernah benar-benar berhenti?



