Kapal Tanker Berani Lintasi Selat Hormuz, Iran Ancam Rute Baru
Baca dalam 60 detik
- Kapal tanker Liberian Stoic Warrior berhasil melintasi Selat Hormuz melalui jalur baru dekat pantai Oman, meskipun mendapat ancaman dari Garda Revolusi Iran.
- Rute alternatif yang dipromosikan oleh Oman dan IMO ini memicu kemarahan Teheran, yang menyatakan hanya jalur yang ditetapkan Iran yang aman dan legal.
- Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global, termasuk impor minyak mentah Indonesia yang sebagian besar melewati jalur tersebut.

Sejumlah kapal tanker, dipimpin oleh kapal berbendera Liberia bernama Stoic Warrior, berhasil melintasi Selat Hormuz pada Kamis (26/6) melalui jalur baru yang direkomendasikan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO) dan Oman. Langkah ini diambil di tengah ancaman keras dari Garda Revolusi Iran yang menolak perubahan rute pelayaran di salah satu titik tersempit jalur minyak dunia itu.
Transit Stoic Warrior terjadi saat hubungan Washington dan Teheran memanas pasca penandatanganan nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata pekan lalu. Kedua negara sepakat memberikan waktu 60 hari untuk merundingkan detail teknis, termasuk keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan masa depan stok uranium Iran. Namun, negosiasi publik yang saling serang justru meningkatkan risiko kegagalan kesepakatan.
Ancaman baru muncul dari eskalasi konflik di Lebanon, di mana Israel melancarkan serangan udara pertama sejak gencatan senjata Sabtu lalu, menewaskan dua orang di Lebanon selatan. Serangan itu menargetkan milisi Hizbullah yang didukung Iran, memperkeruh suasana diplomatik yang sudah rapuh.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menabur ranjau di perairan Selat Hormuz. Laporan menyebut setidaknya satu ranjau terlihat di jalur pelayaran utama, sehingga rute tengah yang biasa digunakan—Traffic Separation Scheme—terpaksa ditutup. Jalur itu selama puluhan tahun menjadi urat nadi pengangkutan seperlima minyak dan gas bumi dunia.
Menanggapi inisiatif Oman dan IMO, Garda Revolusi melalui kantor berita IRNA menyatakan kemarahan. "Beberapa jam lalu, tanpa pemberitahuan atau koordinasi dengan Republik Islam Iran, beberapa otoritas mengumumkan rute baru untuk lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Ini tidak dapat diterima dan sepenuhnya berbahaya," demikian pernyataan resmi mereka. Garda menegaskan hanya jalur yang diumumkan Iran yang sah, dan pelanggar akan ditindak.
Namun, hingga Kamis malam tidak ada insiden yang dilaporkan. Data pelacakan kapal menunjukkan beberapa kapal lain mengikuti jejak Stoic Warrior. Anwar Gargash, diplomat senior Uni Emirat Arab, memperingatkan Iran agar tidak menghalangi pelayaran atau memungut biaya di selat tersebut. "Fakta geopolitik baru tidak bisa dipaksakan kepada negara-negara Teluk Arab akibat agresi berbahaya terhadap mereka," tulis Gargash di platform X.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah terbesar di Asia Tenggara, hampir 40% pasokan minyak Indonesia bergantung pada jalur ini. Gangguan sekecil apapun dapat memicu lonjakan harga BBM dalam negeri dan mengganggu stabilitas pasokan energi nasional. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan skenario diversifikasi rute impor.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah rute baru yang diusulkan Oman dan IMO dapat bertahan di tengah tekanan militer Iran. Jika Teheran benar-benar menindak kapal-kapal yang melintas di luar jalur resminya, konfrontasi terbuka di Selat Hormuz bukan lagi sekadar ancaman retoris.



