Krisis di Balik Sukses Elden Ring: Pemegang Saham Desak CEO Kadokawa Mundur
Baca dalam 60 detik
- Oasis Management, dana aktivis Jepang, kini menjadi pemegang saham terbesar Kadokawa dengan 13,76% saham dan menuntut pemecatan CEO Takeshi Natsuno dalam RUPS tahunan.
- Meskipun Elden Ring sukses besar, profitabilitas Kadokawa menurun drastis sejak 2021, memicu kritik atas pengelolaan lisensi dan perjanjian penerbitan internasional yang dinilai merugikan.
- Dukungan dari dua firma penasihat pemegang saham, ISS dan Glass Lewis, memperkuat tekanan pada manajemen dan menjadi ujian tata kelola perusahaan di Jepang.

Kadokawa Corporation, induk perusahaan dari studio game ternama FromSoftware yang melahirkan fenomena global Elden Ring, kini menghadapi pemberontakan dari pemegang sahamnya. Dana aktivis Oasis Management, yang baru saja mengakuisisi 13,76% saham dan menjadi pemegang saham terbesar, secara terbuka menuntut pemecatan CEO Takeshi Natsuno dalam rapat umum pemegang saham tahunan yang akan datang.
Langkah Oasis Management bukanlah tanpa alasan. Meskipun Elden Ring meraih sukses komersial luar biasa sejak dirilis pada 2022, profitabilitas Kadokawa justru merosot tajam sejak 2021. Oasis menilai manajemen gagal memonetisasi lisensi unggulan secara optimal. Kritik tajam juga dialamatkan pada sejumlah perjanjian penerbitan internasional yang dianggap tidak menguntungkan grup, sehingga potensi pendapatan dari waralaba utama tidak tergarap maksimal.
Kredibilitas tuntutan ini semakin kuat setelah dua firma penasihat pemegang saham berpengaruh, Institutional Shareholder Services (ISS) dan Glass Lewis, merekomendasikan pemegang saham untuk menolak pencalonan kembali Natsuno sebagai direktur. Dukungan dari dua lembaga ini seringkali menjadi penentu dalam pertarungan proxy di Jepang, memberikan tekanan besar pada manajemen Kadokawa.
Di luar masalah keuangan, Kadokawa juga tengah terpuruk akibat serangan siber besar-besaran pada 2022 yang membocorkan data internal, kritik terhadap praktik manajemen, serta sejumlah kontroversi hukum yang melibatkan mantan eksekutif. Serangkaian insiden ini memperlemah posisi tawar manajemen di mata investor dan publik.
Pertarungan di Kadokawa dipandang sebagai ujian penting bagi tata kelola perusahaan di Jepang, di mana investor aktivis semakin vokal menuntut perubahan. Bagi industri game global, hasil dari RUPS ini bisa berdampak pada strategi lisensi dan akuisisi di masa depan, termasuk potensi pengaruh terhadap pengembangan waralaba seperti Elden Ring dan Dark Souls.
โIni adalah momen kritis bagi Kadokawa dan juga bagi perusahaan Jepang lainnya. Investor aktivis tidak lagi ragu untuk menantang manajemen yang dianggap tidak efisien,โ ujar seorang analis korporat yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat popularitas Elden Ring yang sangat tinggi di kalangan gamer Tanah Air. Jika terjadi perubahan manajemen, kebijakan lisensi dan harga game di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bisa berubah. Selain itu, kasus ini menjadi pelajaran bagi perusahaan teknologi dan hiburan di Indonesia tentang pentingnya tata kelola yang transparan dan responsif terhadap pemegang saham.
RUPS Kadokawa dijadwalkan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang. Pertanyaannya, akankah pemegang saham lain mengikuti rekomendasi ISS dan Glass Lewis, atau justru mempertahankan Natsuno? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan masa depan Kadokawa, tetapi juga menjadi sinyal bagi pasar modal Jepang secara keseluruhan.



