Gempa 7,2 Guncang Jepang Utara, Warga Diimbau Waspada Gempa Susulan
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,2 mengguncang lepas pantai Iwate, Jepang utara, tanpa menimbulkan korban jiwa atau kerusakan besar.
- Pemerintah Jepang mengimbau kewaspadaan terhadap gempa susulan, mengingat aktivitas seismik tinggi di kawasan Cincin Api Pasifik.
- Bagi Indonesia yang juga berada di jalur gempa, kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa.

Gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter yang mengguncang perairan utara Jepang pada Kamis pagi (25/6) tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan berarti, meskipun guncangan terasa hingga ratusan kilometer di Tokyo. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat episenter gempa berada di kedalaman 44 kilometer lepas pantai Prefektur Iwate, Pulau Honshu, dan tidak memicu peringatan tsunami.
Guncangan yang terjadi pukul 07.30 waktu setempat itu sempat menghentikan sementara layanan kereta peluru Shinkansen di beberapa jalur. Sejumlah laporan menyebutkan barang-barang di dapur dan toko berjatuhan, serta sebuah truk tangki terguling. Di Kota Hashikami, Prefektur Aomori, seorang pegawai perusahaan pengolahan makanan, Mutsumi Shimohata (61), mengaku kaget saat alarm ponselnya berbunyi sesaat setelah gempa. "Tidak ada kerusakan di rumah, tapi perusahaan menyuruh kami tetap di rumah dan siaga hari ini karena pintu otomatis kantor tidak bisa dibuka dan plafon sebagian runtuh," ujarnya kepada NHK.
Pemerintah Jepang melalui Juru Bicara Utama Minoru Kihara menyatakan belum ada laporan korban jiwa, namun tim terus memantau dan menilai kerusakan. Otoritas Regulasi Nuklir memastikan tidak ada kelainan di pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi memerintahkan kementerian dan lembaga pemerintah untuk bekerja sama erat dengan otoritas setempat. "Saya meminta warga di daerah yang mengalami guncangan kuat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dengan intensitas serupa," tulis Takaichi di akun X-nya.
Jepang, yang berada di atas empat lempeng tektonik besar di sepanjang Cincin Api Pasifik, merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia. Dengan populasi sekitar 125 juta jiwa, negara ini mengalami ratusan gempa setiap tahun dan menyumbang sekitar 18 persen dari total gempa bumi global. Sebagian besar gempa bersifat ringan, namun kerusakan yang ditimbulkan bervariasi tergantung lokasi dan kedalaman. Kenangan pahit gempa 9,0 skala Richter pada 2011 yang memicu tsunami dan bencana Fukushima masih membekas.
Bagi Indonesia, yang juga berada di jalur Cincin Api Pasifik, gempa di Jepang ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia secara rutin memantau aktivitas seismik dan mengeluarkan peringatan dini tsunami. Masyarakat Indonesia diharapkan selalu waspada dan memahami prosedur evakuasi, terutama di daerah rawan gempa seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua.
Ke depan, para ahli memperkirakan aktivitas seismik di kawasan Pasifik masih akan tinggi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat Indonesia sudah cukup optimal untuk menghadapi gempa besar yang mungkin terjadi?



