Harga Pangan Terkendali, Pemerintah Gencarkan Pengawasan Langsung ke Pasar Tradisional
Baca dalam 60 detik
- Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan pasokan dan harga bahan pokok stabil, dengan harga cabai rawit di bawah HET dan telur ayam di level rendah.
- Pemerintah mengerahkan 550 kontributor di 514 kabupaten/kota untuk memantau harga harian melalui SP2KP, sekaligus melakukan inspeksi mendadak ke pasar.
- Kenaikan harga daging sapi masih diselidiki, sementara untuk telur dan daging ayam, pemerintah mendorong sektor perhotelan dan ritel menyerap lebih banyak produk peternakan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di tengah fluktuasi harga komoditas pangan nasional. Dalam pemantauan terbaru, sejumlah harga pangan strategis tercatat berada di bawah harga eceran tertinggi (HET), meskipun beberapa komoditas seperti daging sapi masih menunjukkan tren kenaikan yang tengah diinvestigasi.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Pasar Manis, harga cabai rawit saat ini berkisar Rp40.000โRp50.000 per kilogram, lebih rendah dari HET Rp57.000 per kilogram. Sementara itu, telur ayam dibanderol Rp25.000 per kilogram dan daging ayam Rp36.000 per kilogram. Budi menilai harga yang mendekati HET merupakan titik ideal karena mencerminkan keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.
"Kalau harga terlalu rendah, kasihan peternak. Tapi kalau terlalu tinggi, kasihan konsumen. Kami cari titik temu," ujar Budi dalam keterangan resmi, Kamis (25/6/2026). Untuk mengatasi harga telur dan daging ayam yang dinilai masih rendah, pemerintah telah berkoordinasi dengan sektor perhotelan, restoran, kafe, dan ritel modern agar meningkatkan penyerapan produk peternakan. Langkah ini diharapkan mampu mendorong harga kembali ke level yang lebih wajar.
Pemerintah juga mengandalkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang melibatkan 550 kontributor di 514 kabupaten dan kota. Setiap hari, data harga dari pasar tradisional dilaporkan dan dipantau secara real-time dari Jakarta. Budi menekankan pentingnya pengawasan langsung ke daerah, bukan sekadar data digital. "Kehadiran kami di pasar tradisional secara psikologis mengingatkan pedagang untuk tidak menjual di atas HET," katanya.
Kenaikan harga daging sapi menjadi perhatian khusus. Pemerintah masih menelusuri penyebabnya, apakah berasal dari sisi pasokan atau distribusi. "Harga yang naik maupun turun harus ditangani. Kalau turun, penyerapan diperbanyak. Kalau naik, kami cari penyebabnya, apakah distribusi atau pasokan," jelas Budi. Pendekatan ini menunjukkan pemerintah berupaya melakukan intervensi yang tepat sasaran, bukan sekadar kebijakan harga seragam.
Bagi konsumen Indonesia, stabilitas harga pangan merupakan isu krusial mengingat belanja bahan pokok masih menyumbang proporsi besar dalam pengeluaran rumah tangga. Langkah pemerintah yang mengombinasikan pemantauan digital dan inspeksi lapangan diharapkan mampu meredam gejolak harga menjelang musim panen dan hari besar keagamaan. Namun, efektivitas koordinasi dengan sektor swastaโseperti hotel dan restoranโdalam menyerap produk peternakan masih perlu diuji. Akankah harga telur dan daging ayam segera pulih, atau justru tekanan pada peternak akan berlanjut?



