Tiyo Ardianto Batal Lapor Polisi: Dua Alat Pelacak di Mobil Jadi Alarm Demokrasi
Baca dalam 60 detik
- Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto memutuskan tidak melaporkan temuan dua alat pelacak di mobilnya ke polisi, karena menganggapnya sebagai bagian dari intimidasi sistematis.
- Tiyo menilai pemasangan alat itu sengaja dilakukan agar ia tahu bahwa setiap gerak-geriknya selalu dipantau, baik oleh penguasa maupun pihak yang ingin memprovokasi.
- Ia justru menjadikan peristiwa ini sebagai peringatan bagi publik bahwa aktivis yang kritis terhadap kebijakan pemerintah kerap dibayangi ancaman serupa.

Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, memilih untuk tidak melanjutkan proses hukum atas temuan dua alat pelacak yang menempel di kendaraan pribadinya. Keputusan itu diambil bukan karena takut, melainkan karena ia menilai kasus serupa sudah terlalu sering terjadi dan tidak akan selesai hanya dengan laporan kepolisian.
"Kalau harus melaporkan semua kejadian seperti ini, terlalu banyak yang harus saya laporkan. Pengalaman saya di berbagai daerah juga tidak kalah rumit," ujar Tiyo saat ditemui di kampus UGM, Sleman, Kamis (25/6).
Bagi Tiyo, cara pemasangan kedua alat pelacak itu justru menunjukkan pesan yang gamblang: siapa pun yang memantau ingin ia sadar bahwa dirinya selalu dalam pengawasan. Alat pertama ditemukan saat ia dalam perjalanan dari Semarang ke Yogyakarta pada pertengahan Juni 2026, setelah ponselnya menerima notifikasi dari aplikasi PBX Finder. Alat berbentuk kotak bermagnet itu menempel di bagian belakang bodi mobil. Keesokan harinya, saat kembali ke Semarang, ia kembali mendapat notifikasi serupa dan menemukan alat keduaโberbentuk lingkaran pipih yang direkatkan dengan lakban hitam di ban kanan belakang.
Menurut Tiyo, sebelum menemukan alat tersebut, ia sudah mencium keanehan ketika beberapa orang tak dikenal memotretnya secara terang-terangan saat acara diskusi di Semarang. "Itu menjadi aba-aba bahwa saya memang sedang diintai," kata aktivis yang pernah menjabat Ketua BEM UGM periode 2025 itu.
Alih-alih sibuk mencari dalang, Tiyo justru memilih mengabaikan peristiwa itu. Ia menduga pemasangan alat bisa dilakukan oleh pihak penguasa yang merasa terusik dengan kritiknya, atau oleh kelompok lain yang ingin menciptakan benturan antara dirinya dan rezim. "Saya tidak mau disibukkan mencari siapa pelakunya. Bisa dari kekuasaan, bisa juga dari mereka yang ingin membenturkan saya dengan kekuasaan," ungkapnya.
Bagi Tiyo, esensi dari insiden ini bukanlah pada identitas pelaku, melainkan pada pesan yang ingin disampaikan: bahwa setiap langkahnya selalu dipantau. Ia menilai hal itu merupakan bentuk teror psikologis yang disengaja. "Ini sengaja dipasang supaya saya tahu. Bahwa ke mana pun saya pergi, ada orang-orang yang mengamati," tegasnya.
Keputusan Tiyo untuk tidak melapor ke polisi menuai beragam reaksi. Sebagian kalangan menilai langkah itu realistis mengingat banyak kasus serupa yang tidak pernah tuntas. Namun, di sisi lain, ada yang mengkhawatirkan bahwa sikap diam justru akan memperkuat budaya intimidasi terhadap aktivis. Tiyo sendiri menegaskan bahwa yang terpenting adalah publik mengetahui peristiwa ini. "Ini menjadi alarm bagi demokrasi. Mereka yang peduli pada bangsa justru dibayang-bayangi bahaya," pungkasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah aparat keamanan akan bergerak proaktif tanpa laporan resmi, atau justru membiarkan praktik penguntitan semacam ini menjadi "normal baru" bagi aktivis kritis di Indonesia?



