AS dan Iran Kembali Saling Serang, Gencatan Senjata Dua Pekan Runtuh
Baca dalam 60 detik
- Militer AS melancarkan serangan baru ke Iran setelah sebuah kapal tanker diserang di Selat Hormuz, menandai eskalasi terburuk sejak gencatan senjata sementara ditandatangani dua pekan lalu.
- Iran menuduh AS melanggar kesepakatan dengan tidak mempertahankan gencatan senjata di Lebanon, sementara AS menyebut Iran terus mengancam pelayaran komersial.
- Ribuan kapal sempat terblokade di Teluk; harga minyak turun mendekati level pra-perang setelah jalur mulai dibuka, namun ketidakstabilan baru mengancam pasokan energi global.

Serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah gencatan senjata yang baru berusia dua pekan gagal meredam ketegangan. Militer AS mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap sasaran Iran di selatan negeri itu, menyusul insiden serangan drone terhadap sebuah kapal tanker berbendera Panama di Selat Hormuz pada Sabtu (27/6) pagi.
Dalam pernyataan resmi, Komando Pusat AS menyebut serangan itu sebagai respons langsung atas agresi Iran yang terus mengancam pelayaran komersial. Sasaran yang dibidik meliputi fasilitas pengawasan militer, komunikasi, pertahanan udara, penyimpanan drone, dan penempatan ranjau. Seorang pejabat pertahanan AS kemudian menyatakan bahwa operasi terhadap target-target Iran telah selesai dilaksanakan.
Di pihak Iran, kantor berita IRIB melaporkan ledakan terdengar di wilayah Sirik, Iran selatan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Teheran membalas dengan menyerang sasaran yang terkait dengan pasukan AS, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran. Serangan terhadap kapal tanker pada Sabtu itu merupakan insiden kedua dalam sepekan, setelah sebuah kapal kargo juga menjadi sasaran pada Kamis sebelumnya.
Ketegangan di Selat Hormuz—jalur energi paling vital dunia—kembali mengancam pasokan minyak global. Sejak konflik meletus, ratusan kapal, termasuk tanker bermuatan minyak, terblokade di Teluk. Dalam dua pekan terakhir, beberapa kapal mulai meninggalkan kawasan itu, mendorong harga minyak turun mendekati level sebelum perang. Namun, serangan terbaru berpotensi mengembalikan ketidakpastian pasar.
Washington mendorong penggunaan jalur selatan di sepanjang pesisir Oman, sementara Teheran ingin kapal-kapal melintasi jalur utara di bawah kendalinya dan membayar biaya. Ebrahim Azizi, kepala komite keamanan nasional parlemen Iran, menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap instruksi pelayaran Iran akan dihadapi dengan tegas. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa AS telah mematuhi gencatan senjata dan menuding Iran sebagai pihak yang memicu eskalasi.
Konflik ini juga merembet ke Lebanon, di mana Israel dan Hizbullah kembali terlibat bentrokan meskipun gencatan senjata baru diumumkan. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menolak kesepakatan gencatan senjata Israel-Lebanon yang baru berusia sehari dan menyebutnya sebagai bentuk penyerahan diri. Ribuan warga Lebanon—kebanyakan Syiah—masih belum bisa kembali ke rumah mereka di wilayah pendudukan Israel, memicu kemarahan yang meluas.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak mentah. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi mendongkrak harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah kerap mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus investasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah gencatan senjata yang rapuh ini benar-benar runtuh, atau kedua pihak masih menyisakan ruang untuk diplomasi? Dengan ancaman Trump yang menyebut Iran "tidak akan ada lagi" jika serangan berlanjut, dunia menanti langkah selanjutnya dari Teheran dan Washington.



