Vucic Umumkan Mundur dalam Pekan Ini, Gelar Pemilu Dini di Tengah Gelombang Protes
Baca dalam 60 detik
- Presiden Serbia Aleksandar Vucic menyatakan akan mundur dalam beberapa pekan dan menggelar pemilu presiden serta parlemen lebih awal, setelah 18 bulan demonstrasi anti-pemerintah.
- Langkah ini dipandang sebagai upaya Vucic mempertahankan kendali dengan beralih ke kursi perdana menteri, bukan benar-benar meninggalkan panggung politik.
- Protes mahasiswa yang dipicu tragedi stasiun kereta Novi Sad (16 tewas) menjadi pendorong utama percepatan agenda politik di Serbia.

Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengumumkan pengunduran dirinya dalam hitungan pekan dan pemilu presiden serta parlemen akan dimajukan, sebuah langkah yang dibacakan di hadapan ribuan pendukungnya di Belgrade, Sabtu (27/6). Keputusan ini menjadi respons atas gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang telah berlangsung 18 bulan dan dipicu oleh tragedi ambruknya kanopi stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang.
Vucic, yang telah berkuasa sebagai presiden atau perdana menteri selama 12 tahun, mengatakan masa jabatannya hanya tinggal beberapa pekan lagi. Padahal, mandat keduanya baru akan berakhir pada pertengahan 2027. Ia menegaskan akan membantu Partai Progresif Serbia (SNS) memenangkan pemilu presiden dan parlemen yang dipercepat, dengan mengusung nama daftar 'Serbia Bersatu'. Namun, ia tidak merinci tanggal pasti pengunduran diri maupun pembubaran parlemen.
Analis menilai langkah ini bukanlah akhir dari karier politik Vucic, melainkan strategi untuk tetap memegang kendali. Dengan mundur dari kursi presiden yang seremonial, Vucic membuka peluang menjadi perdana menteri jika partainya menang. "Ini sama sekali bukan akhir dari Vucic. Dia sudah punya rencana yang pasti tidak berarti pensiun politik, justru sebaliknya," ujar Radivoje Grujic, analis politik yang berbasis di Warsawa.
Protes mahasiswa yang dipicu tragedi Novi Sad telah menjadi gerakan terbesar sejak penggulingan Slobodan Milosevic pada 2000. Para mahasiswa menuntut pemilu umum dan mengkritik korupsi serta mismanajemen proyek konstruksi. Savo Manojlovic, ketua gerakan oposisi mahasiswa Move-Change, menilai pengunduran diri Vucic adalah upaya mendahului kejatuhan yang tak terhindarkan. "Dengan mengundurkan diri dan menggelar pemilu dini, Vucic mencoba mengantisipasi jatuhnya dia karena protes dan gerakan mahasiswa yang dukungannya lebih besar darinya," katanya.
Dalam pidatonya, Vucic menuduh mahasiswa dan pengunjuk rasa ingin menghancurkan negara serta berkolusi dengan kekuatan asing, tuduhan yang dibantah keras oleh para demonstran. Ia juga berjanji memberantas korupsi, menaikkan pensiun, dan memperbaiki layanan kesehatan. Namun, pihak oposisi menuding Vucic dan sekutunya melakukan kekerasan terhadap lawan politik, korupsi sistemik, serta mengekang kebebasan pers.
Serbia saat ini menjadi kandidat anggota Uni Eropa, namun masih mempertahankan hubungan erat dengan Rusia dan China. Sebelum bergabung dengan UE, Serbia harus memperbaiki supremasi hukum, menciptakan pemilu yang bebas dan adil, serta memberantas korupsi. Langkah Vucic ini dinilai sebagai upaya untuk mengamankan posisinya di tengah tekanan domestik dan internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemilu dini ini benar-benar akan membuka ruang demokrasi yang lebih luas atau justru menjadi alat bagi Vucic untuk memperpanjang kekuasaannya dalam bentuk yang berbeda. Dengan dukungan massa yang masih kuat dan mesin partai yang solid, skenario Vucic kembali ke kursi perdana menteri bukanlah kemustahilan.



