Misteri Ibu Kim Jong Un: Ancaman Diam-diam bagi Legitimasi Dinasti Paektu
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tak pernah menyebut nama ibunya, Ko Yong Hui, secara publik selama 15 tahun berkuasa.
- Latar belakang Ko sebagai etnis Korea kelahiran Jepang—kasta rendah dalam sistem songbun—bertolak belakang dengan narasi suci garis darah Paektu.
- Pengungkapan asal-usul ibunya bisa mengguncang fondasi rezim, setara dengan bom nuklir bagi masyarakat Korea Utara.

Selama 15 tahun memimpin Korea Utara, Kim Jong Un belum sekalipun menyebut nama ibunya di depan publik. Di balik tembok kerahasiaan istana Pyongyang, sosok Ko Yong Hui—perempuan kelahiran Osaka, Jepang, yang menjadi selir Kim Jong Il—menyimpan bom waktu bagi legitimasi dinasti Kim.
Legitimasi kekuasaan Kim Jong Un bertumpu pada mitos garis darah Paektu, yang menghubungkan keluarganya dengan pendiri mitologis bangsa Korea. Namun, kenyataan silsilah ibunya justru berseberangan. Ko Yong Hui lahir pada 1952 di Osaka dari orang tua asal Pulau Jeju, yang kini masuk wilayah Korea Selatan. Keluarganya termasuk dalam kelompok Zainichi Korea—imigran era kolonial Jepang—yang kemudian pindah ke Korea Utara dalam program repatriasi pada 1960-an.
Di Korea Utara, para imigran dari Jepang mendapat stigma sebagai "jjaepo", kelompok yang dianggap terkontaminasi ideologi asing dan berbahaya. Dalam sistem kasta sosial songbun, mereka masuk golongan "ragu-ragu", diawasi ketat, dan sulit mengakses pendidikan tinggi atau pekerjaan bergengsi. "Gagasan bahwa pemimpin adalah anak seorang jjaepo sungguh tak terbayangkan," ujar Kim Hyung-su dari Northern Research Association.
Ko Yong Hui lolos dari nasib buruk kebanyakan Zainichi setelah menarik perhatian Kim Jong Il, yang saat itu telah menikah dengan Kim Young Sook—putri pejabat militer tinggi. Sebagai anggota Mansudae Art Troupe, Ko disebut memikat Kim karena kecantikan dan kemampuan menarinya. Meski tak pernah dinikahi secara resmi dan hubungannya tak diakui rezim, Ko menjalani hidup seperti "Cinderella"—menemani Kim dalam inspeksi militer dan dimintai pendapat sebelum kebijakan penting, menurut mantan koki pribadi Kim.
Namun, Kim Il Sung, pendiri Korea Utara, tak pernah mengakui Ko sebagai menantu. Foto dirinya bersama cucu-cucu dari Ko tak pernah diedarkan. Setelah kematian Kim Il Sung, Kim Jong Il naik sebagai pemimpin tertinggi dan Ko menjadi ibu negara de facto. Sebuah film dokumenter resmi yang menampilkan Ko bersama Kim diputar terbatas untuk petinggi partai pada Juni 2012, namun segera ditarik karena memicu rasa ingin tahu publik. "Jika latar belakang Ko diketahui, legitimasi rezim bisa dipertanyakan," kata Dr. Cheong Seong-chang dari Sejong Institute.
Pertanyaan besarnya: bagaimana putra kedua dari seorang selir bisa mewarisi tahta? Kakak tiri Kim Jong Un, Kim Jong Nam, tersingkir karena mengkritik suksesi turun-temurun dan memiliki gaya hidup gemerlap—ia dibunuh di Malaysia pada 2017. Kakak lainnya, Kim Jong Chul, dianggap tidak layak karena kecanduan opium. Ko disebut aktif melobi agar putra keduanya, Kim Jong Un, menjadi penerus atas desakan adiknya yang khawatir keluarga mereka terancam jika tak berkuasa.
Kerahasiaan seputar ibu Kim Jong Un juga menjelaskan mengapa hari ulang tahunnya tak pernah dijadikan hari libur nasional, berbeda dengan kakek dan ayahnya. Para analis meyakini bahwa publikasi kelahirannya bisa memicu pertanyaan tentang asal-usul ibunya dan masa kecilnya di luar Pyongyang. Ironisnya, rasa inferioritas itu justru mendorong Kim untuk memperkenalkan istri dan putrinya lebih awal. Ri Sol Ju, istrinya, berasal dari keluarga kelas menengah atas Pyongyang dengan latar belakang songbun yang baik—sebuah kontras yang sengaja ditampilkan.
Menurut mantan diplomat Korea Utara yang membelot, Ryu Hyun-woo, jika asal-usul Ko Yong Hui—sebagai etnis Korea dari Jepang—terungkap ke publik, dampaknya akan seperti bom nuklir bagi masyarakat Korea Utara. Pertanyaannya, mampukah rezim mempertahankan mitos Paektu jika fakta garis ibu sang pemimpin justru berasal dari kasta yang mereka hinakan?



