Dukungan Pemegang Saham terhadap CEO Kadokawa Anjlok Drastis, Aktivis Desak Pergantian
Baca dalam 60 detik
- CEO Kadokawa Takeshi Natsuno hanya memperoleh 59,68% suara pemegang saham dalam RUPS, turun dari 90% tahun lalu akibat kampanye aktivis Oasis Management.
- Oasis Management mendorong pemecatan Natsuno dengan alasan profitabilitas yang menurun, dan proxy adviser juga merekomendasikan penolakan terhadap dirinya.
- Kadokawa berjanji meninjau struktur manajemen dan rencana bisnis jangka menengah, sementara kasus serupa terjadi di Kyocera yang juga menjadi target Oasis.

Dukungan pemegang saham terhadap CEO raksasa anime dan game asal Jepang, Kadokawa, ambruk drastis dalam rapat umum tahunan (RUPS) yang digelar Rabu lalu. Takeshi Natsuno, yang tetap mempertahankan kursinya di dewan, hanya memperoleh 59,68 persen suara untuk pemilihan kembali, merosot tajam dari 90 persen pada tahun sebelumnya. Angka ini menjadi sinyal kuat meningkatnya tekanan dari investor aktivis yang menuntut perubahan kepemimpinan di perusahaan yang tengah menghadapi tekanan profitabilitas.
Kampanye yang digerakkan oleh Oasis Management, firma investasi berbasis di Hong Kong, menjadi pemicu utama penurunan dukungan tersebut. Oasis secara terbuka mendesak Natsuno diganti dengan alasan kinerja keuangan yang memburuk di bawah kepemimpinannya. Proxy adviser—lembaga yang memberikan rekomendasi kepada pemegang saham—juga menyarankan agar pemegang saham menolak pemilihan kembali Natsuno. Fenomena ini mencerminkan tren global di mana investor semakin berani menggunakan hak suara untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kinerja perusahaan.
Meskipun Natsuno selamat dari pemecatan, hasil voting ini menjadi peringatan keras bagi dewan direksi. Kadokawa, yang dikenal sebagai induk dari waralaba game populer seperti Elden Ring dan berbagai judul anime, kini harus menghadapi tekanan untuk melakukan perbaikan tata kelola. Perusahaan mengumumkan akan mengevaluasi struktur manajemen, sistem kompensasi eksekutif, serta kemajuan rencana bisnis jangka menengah. Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap suara minoritas yang signifikan.
Di sisi lain, dewan direksi Kadokawa sebelumnya membela Natsuno dengan alasan belum ada pengganti yang jelas atau rencana manajemen alternatif. Namun, argumen ini tampaknya tidak cukup meyakinkan sebagian besar pemegang saham. Kasus serupa juga terjadi di Kyocera, perusahaan elektronik Jepang, yang pada hari yang sama menghadapi kampanye Oasis untuk memecat ketua dewan. Meskipun Kyocera berhasil mempertahankan posisinya, tekanan dari aktivis investasi terus meningkat di Jepang.
Bagi investor dan pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya tata kelola perusahaan yang responsif terhadap pemegang saham. Di era di mana investor asing semakin aktif, perusahaan-perusahaan Indonesia—terutama di sektor teknologi dan kreatif—perlu memperhatikan transparansi dan akuntabilitas manajemen. Kegagalan menjaga kepercayaan pemegang saham dapat berujung pada gejolak serupa, seperti yang dialami Kadokawa. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah Kadokawa akan mampu memulihkan kepercayaan investor, atau justru menjadi contoh lain dari korporasi yang tumbang akibat tekanan aktivis?



