Tabrakan Kereta di Inggris: Masinis Tewas, Sinyal Merah Diabaikan
Baca dalam 60 detik
- Masinis kereta yang menabrak kereta lain di Bedford, Inggris, dilaporkan melewati sinyal merah dan baru mengerem sembilan detik sebelum tabrakan.
- Kecelakaan pada 19 Juni 2026 menewaskan masinis Shaun Burton (60) dan melukai lebih dari 100 orang, dengan 40 masih dirawat dan empat kritis.
- Penyelidikan awal menyoroti sistem peringatan otomatis yang gagal mencegah insiden, memicu evaluasi keselamatan perkeretaapian global.

Masinis kereta yang tewas dalam tabrakan dua kereta di Bedford, Inggris, pada Jumat pekan lalu diketahui melaju melewati sinyal merah dan baru mengaktifkan rem sembilan detik sebelum benturan. Temuan awal dari Rail Accident Investigation Branch (RAIB) yang dirilis Rabu (24/6) mengungkapkan bahwa kereta listrik menuju London itu menabrak kereta lain yang sedang berhenti di jalur yang sama, mengakibatkan korban jiwa dan puluhan luka-luka.
Kecelakaan yang terjadi pada 19 Juni 2026 itu menewaskan masinis kereta belakang, Shaun Burton (60), dan melukai lebih dari 100 penumpang. Hingga Rabu, Kepolisian Transportasi Inggris melaporkan 40 orang masih dirawat di rumah sakit, empat di antaranya dalam kondisi kritis. Peristiwa ini menjadi sorotan tajam mengingat sistem keselamatan perkeretaapian Inggris yang selama ini dianggap andal.
Menurut penyelidik RAIB, rekaman CCTV di dalam kabin menunjukkan sinyal otomatis di jalur tersebut menampilkan aspek merah saat kereta mendekat dan melewatinya. Data dari kotak hitam di bagian belakang kereta mengungkapkan bahwa rem baru diaktifkan sekitar sembilan detik sebelum tabrakan, saat kereta melaju dengan kecepatan 122 km per jam. Kecepatan kemudian turun menjadi sekitar 79 km per jam sebelum akhirnya menghantam kereta di depannya.
Sistem peringatan otomatis seharusnya membunyikan klakson di kabin masinis saat kereta mendekati sinyal yang tidak hijau, yang harus diakui dengan menekan tombol. Jika tidak direspons dalam waktu singkat, rem darurat akan aktif secara otomatis. Namun, dalam kasus ini, sistem tersebut gagal mencegah kecelakaan. Investigasi masih berlangsung untuk memeriksa fungsi sistem peringatan di kereta yang bergerak, mengingat kotak hitam di bagian depan mengalami kerusakan parah.
Menteri Transportasi Inggris Heidi Alexander menyatakan di platform X bahwa masih banyak yang perlu diungkap dan pihaknya akan bekerja keras untuk memahami penyebab pasti kecelakaan. Sementara itu, Sekretaris Jenderal serikat masinis ASLEF, Dave Calfe, menekankan pentingnya memahami bagaimana dan mengapa kereta bisa melewati sinyal merah. Penyelidikan juga akan meneliti posisi dan visibilitas sinyal merah, serta ketahanan struktur kedua kereta saat tabrakan.
Bagi Indonesia, kecelakaan ini menjadi pengingat akan pentingnya pemeliharaan sistem sinyal dan pelatihan masinis. Meskipun sistem perkeretaapian di Indonesia berbeda, insiden serupa pernah terjadi di masa lalu, seperti tabrakan kereta di Bintaro pada 2013. Otoritas perkeretaapian Indonesia dapat mengambil pelajaran dari investigasi RAIB untuk memperkuat prosedur keselamatan, terutama dalam hal respons terhadap kegagalan sinyal dan sistem peringatan otomatis.
Ke depan, pertanyaan krusial yang muncul adalah apakah kegagalan sistem peringatan otomatis merupakan faktor tunggal atau ada elemen manusia yang turut berperan. Dengan analisis lebih lanjut dari kotak hitam yang rusak, publik berharap transparansi penuh dari RAIB untuk mencegah tragedi serupa terulang, baik di Inggris maupun di negara lain yang mengadopsi teknologi serupa.



