Ratusan Umat Katolik Filipina Rayakan Iman dengan Lumpur dan Daun Pisang Kering
Baca dalam 60 detik
- Ribuan umat Katolik di Bibiclat, Filipina, mengikuti tradisi Taong Putik dengan melumuri tubuh lumpur dan membalut daun pisang kering sebagai wujud syukur kepada Santo Yohanes Pembaptis.
- Tradisi yang bermula pada abad ke-19 ini awalnya merupakan ekspresi kerendahan hati petani miskin yang mengalami diskriminasi, dan kini diikuti hingga 3.000 orang setiap tahunnya.
- Fenomena serupa juga ditemukan di Indonesia, seperti ritual Jamasan Pusaka di Jawa, yang menunjukkan bagaimana keyakinan lokal berpadu dengan praktik keagamaan.

Ratusan umat Katolik di Desa Bibiclat, Filipina, kembali menggelar ritual tahunan Taong Putik—atau Manusia Lumpur—pada Rabu (24/6) dengan melumuri seluruh tubuh mereka menggunakan lumpur dan membalutnya dengan daun pisang kering. Tradisi yang telah berlangsung lebih dari dua abad ini menjadi salah satu bentuk penghormatan paling unik kepada Santo Yohanes Pembaptis di negara dengan populasi Katolik terbesar di Asia tersebut.
Para peserta, yang sebagian besar adalah petani dan buruh, memulai persiapan sebelum fajar. Mereka mencari lumpur lembut di sawah sekitar pukul 04.00, mengoleskannya ke tubuh, lalu membungkus diri dengan daun pisang kering. Setelah itu, mereka berjalan tanpa alas kaki menuju Gereja Santo Yohanes Pembaptis hanya dengan membawa ponsel dan lilin menyala. Saat menunggu misa, kidung pujian berkumandang di sekitar api kecil dari persembahan lilin.
Menurut catatan sejarah gereja setempat, praktik ini berawal pada tahun 1800-an. Para petani miskin saat itu melumuri tubuh dengan lumpur sebagai simbol kerendahan hati, dan menutupi identitas mereka dengan daun pisang untuk menghindari diskriminasi kelas. “Ini adalah bentuk penyesalan dan permohonan yang tulus,” ujar Pastor Elmer Villamayor, yang memimpin paroki setempat antara 2014 dan 2021, seperti dikutip dari The Star.
Bagi banyak peserta, ritual ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan wujud nyata rasa syukur atas mukjizat yang mereka yakini. Melencio Nenuda (39), seorang buruh bangunan, mengaku dulu takut melihat orang berlumuran lumpur dan kerap bersembunyi saat mereka lewat. Namun, ketika ia jatuh sakit parah di kelas enam SD, ibunya berdoa kepada Santo Yohanes Pembaptis dan berjanji akan mengikuti tradisi ini jika ia sembuh. “Saya akan terus kembali ke tradisi ini karena memberi saya masa depan yang baik,” kata Nenuda, yang kini diikuti istri dan anaknya.
Kisah serupa datang dari Rickmar Castilio (43), yang telah berpartisipasi selama dua dekade. Tahun ini, putranya yang berusia 11 tahun, Nathan, ikut serta untuk pertama kalinya. Castilio mengaku memiliki nazar setelah anak pertamanya meninggal: ia akan terus menghormati Santo Yohanes Pembaptis melalui ritual tahunan jika anak berikutnya selamat. “Saya membawa anak saya agar ia semakin dekat dengan Santo Yohanes,” ujarnya. “Kaum muda sekarang mulai menapaki jalan itu.”
Fenomena serupa sebenarnya juga dapat ditemukan di Indonesia, meski dalam bingkai budaya yang berbeda. Di Jawa, misalnya, tradisi Jamasan Pusaka atau membersihkan benda pusaka sering kali diiringi doa dan harapan akan berkah. Sementara itu, ritual mandi lumpur di beberapa daerah seperti di Pacitan atau Lumajang kerap dikaitkan dengan kesuburan dan tolak bala. Namun, tidak seperti Taong Putik yang berpusat pada satu santo, praktik di Indonesia lebih bersifat sinkretis antara kepercayaan lokal dan agama resmi.
Pastor Villamayor menambahkan bahwa devosi kepada Santo Yohanes Pembaptis semakin kuat setelah sekelompok pria desa lolos dari hukuman mati pada masa pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II. Hujan deras yang tiba-tiba menggagalkan eksekusi diyakini sebagai campur tangan ilahi. “Tidak ada catatan resmi, tapi saya memperkirakan hingga 3.000 orang ambil bagian,” katanya.
Ke depannya, tradisi ini diperkirakan akan terus bertahan dan bahkan bertambah peserta, seiring dengan semakin banyaknya generasi muda yang diajak serta oleh orang tua mereka. Pertanyaannya, mampukah ritual semacam ini tetap lestari di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang kian cepat?



