Harga Minyak Brent Jeblok di Bawah US$75, Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Minyak Brent merosot ke level terendah sejak konflik Iran-AS pecah, dipicu kembalinya kapal tanker ke Selat Hormuz.
- Indeks Nasdaq lanjutkan pelemahan tiga hari beruntun, investor mulai meragukan valuasi saham AI yang melambung.
- Penguatan dolar AS dan potensi kenaikan suku bunga September menekan harga emas hingga di bawah US$4.000 per ons.

Minyak mentah jenis Brent untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang Timur Tengah pada akhir Februari lalu jatuh di bawah level psikologis US$75 per barel, seiring dengan mulai normalnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz pasca kesepakatan Amerika Serikat dan Iran. Pelemahan harga komoditas energi ini terjadi di tengah aksi jual saham teknologi di Wall Street yang memasuki hari ketiga, menandai kekhawatiran investor terhadap valuasi sektor kecerdasan buatan (AI) yang dinilai terlalu mahal.
Data pelacakan maritim dari Kpler mencatat sebanyak 25 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Selasa (23/6) dan 17 kapal pada Rabu (24/6) hingga pukul 15.00 GMT. Angka ini masih jauh dari rata-rata masa damai sekitar 120 kapal per hari yang mengangkut seperlima ekspor minyak dan gas alam cair (LNG) global. Meski demikian, peningkatan volume ini sudah cukup untuk menekan harga minyak. "Pembantaian harga minyak terus berlanjut," ujar Chris Beauchamp, analis pasar utama IG. "Ini membawa kelegaan bagi konsumen di seluruh dunia, asalkan industri minyak mampu mengisi celah yang ditinggalkan oleh bulan-bulan gangguan," tambahnya.
Di sisi geopolitik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan komitmen Washington untuk mempertahankan status quo navigasi bebas bea di Selat Hormuz. Namun Iran bersama Oman berkali-kali menyatakan ingin mempertahankan kendali dan mengenakan biaya jasa maritim untuk setiap kapal yang melintas. Ketidakpastian ini masih membayangi prospek pasokan minyak global, meski untuk sementara tekanan harga mereda.
Di bursa saham, Nasdaq Composite ditutup melemah untuk sesi ketiga berturut-turut setelah sempat bangkit dari penurunan lebih dari dua persen pada Selasa. Kekhawatiran investor kini tertuju pada valuasi perusahaan semikonduktor dan saham-saham yang terkait dengan AI. "Investor terus mempertanyakan valuasi AI," kata Jack Ablin dari Cresset Capital. Ia menilai pelemahan pekan ini sebagai indikasi rotasi dari saham teknologi ke sektor lain yang selama ini tertinggal. Sementara itu, Dow Jones justru menguat 0,4 persen. Di Asia, indeks Kospi Seoul melonjak lebih dari tiga persen setelah ambles 10 persen pada Selasa akibat aksi jual saham SK hynix dan Samsung. Bursa Hong Kong dan Shanghai juga hijau, namun Tokyo kembali tertekan. Di Eropa, sebagian besar bursa menguat kecuali Frankfurt yang anjlok karena saham Rheinmetall ambruk 19 persen setelah Berlin membatalkan proyek pembangunan enam fregat miliaran euro.
Di pasar valuta asing, dolar AS terus perkasa ke level tertinggi tujuh bulan, didorong sinyal dari Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, bahwa prioritasnya adalah memerangi inflasi yang dipicu oleh melonjaknya harga minyak dan gas. Pasar menafsirkan hal ini sebagai isyarat kenaikan suku bunga paling cepat September, sehingga meningkatkan daya tarik imbal hasil obligasi AS. "Dolar naik ke level tertinggi tujuh bulan karena investor mencari keamanan di tengah volatilitas ekuitas," ujar Patrick Munnelly, strategis pasar Tickmill Group. Ia menambahkan bahwa pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS pada Kamis untuk mencari petunjuk waktu kenaikan suku bunga. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turun menekan harga emas, yang untuk pertama kalinya sejak November jatuh di bawah US$4.000 per ons, mengikis statusnya sebagai aset safe haven.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak Brent memberikan angin segar bagi APBN karena subsidi energi dan kompensasi BBM diperkirakan berkurang. Namun, potensi kenaikan suku bunga AS bisa memicu arus modal keluar dari pasar keuangan emerging market, termasuk Indonesia, serta menekan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan dolar dan inflasi global dalam menentukan kebijakan moneternya ke depan. Pertanyaan selanjutnya: akankah tren pelemahan minyak berlanjut seiring normalisasi Selat Hormuz, atau justru ketegangan geopolitik baru akan kembali mendongkrak harga?



