Tiga Suster Berusia Ratusan Tahun Jadi Kunci Riset Umur Panjang
Baca dalam 60 detik
- Tiga suster Brasil berusia 103, 104, dan 109 tahun memegang rekor Guinness sebagai trio saudara tertua di dunia.
- Proyek DNA Longevo dari Universitas São Paulo meneliti gen pelindung yang diduga kuat menjadi faktor utama ketahanan fisik dan kognitif di usia lanjut.
- Temuan ini bisa membuka jalan bagi pengembangan terapi anti-penuaan yang relevan bagi populasi Indonesia yang juga menua.

Tiga suster asal Brasil dengan usia total 316 tahun resmi diakui Guinness World Records sebagai trio saudara kandung tertua di dunia, membuka peluang besar bagi ilmuwan untuk mengungkap misteri umur panjang. Levita de Deus Nunes (109), Zoraide de Deus Mota (104), dan Zulina de Deus Nunes (103) kini menjadi subjek utama Proyek DNA Longevo yang dipimpin ahli genetika Mayana Zatz dari Universitas São Paulo.
Proyek ini bertujuan mengidentifikasi varian genetik yang melindungi jantung, otot, dan fungsi kognitif dari kerusakan akibat penuaan. Menurut Zatz, semakin banyak individu berusia di atas 100 tahun yang diteliti—terutama dari keluarga dengan banyak centenarian—semakin akurat hasil risetnya. “Kami mencari gen pelindung melalui tes DNA, dan kami tahu ada beberapa di antaranya,” ujarnya.
Para peneliti akan membandingkan kelompok nonagenarian dan centenarian dengan mereka yang mengalami kerapuhan, penurunan kognitif, atau penyakit kronis. Faktor keturunan diduga lebih dominan daripada lingkungan dalam menjaga kesehatan di usia ekstrem. Ben Meyers, CEO LongeviQuest—organisasi yang memverifikasi rekor umur panjang—menegaskan, “Ketika saudara perempuan mencapai usia itu, jelas ada komponen genetik yang kuat.” Namun ia juga mencatat dukungan sosial dan kedekatan tempat tinggal turut berperan.
Ketiga suster itu sendiri mengaitkan umur panjang mereka dengan pola makan sehat dan gaya hidup aktif. Zulina mengenang masa kecilnya yang penuh berenang dan memancing di sungai, dengan makanan segar tanpa lemari pendingin. Zoraide menekankan pentingnya pemberian ASI. Meski demikian, kehidupan mereka terbilang biasa: Levita bekerja sebagai perajin dan di stasiun televisi, Zoraide sebagai perawat yang membesarkan lima anak, dan Zulina sebagai ibu rumah tangga dengan enam anak.
Peneliti Joao Paulo Guilherme, yang bekerja bersama Zatz, menyatakan target proyek adalah mengumpulkan data dari 500 centenarian agar dapat menarik kesimpulan yang lebih kuat tentang faktor-faktor umur panjang. Riset ini tidak hanya berfokus pada gen, tetapi juga membandingkan pengaruh gaya hidup versus warisan biologis.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi besar. Dengan populasi lansia yang terus bertambah—diperkirakan mencapai 20 persen pada 2045—pemahaman tentang gen pelindung dapat membantu merancang intervensi kesehatan yang lebih efektif. Riset serupa di Indonesia, misalnya pada komunitas lansia di beberapa desa, bisa memperkaya data global tentang keragaman genetik umur panjang.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah gen pelindung yang ditemukan pada ketiga suster Brasil itu juga dimiliki oleh populasi Asia, termasuk Indonesia. Jika ya, bukan tidak mungkin terapi anti-penuaan berbasis genetik akan menjadi kenyataan dalam beberapa dekade mendatang.



