Krisis Kakao Global, Jepang Coba Produksi Cokelat dari Biji Lokal
Baca dalam 60 detik
- Produsen minyak nabati dan pastry chef di Jepang meluncurkan cokelat dari kakao yang ditanam di rumah kaca prefektur Mie, sebagai respons terhadap penurunan pasokan global dan kenaikan harga biji kakao.
- Proyek lima tahun ini bertujuan menciptakan stabilitas harga cokelat di Jepang dengan mengurangi ketergantungan pada impor, meskipun produksi massal masih jauh dari harapan.
- Keberhasilan uji coba ini membuka peluang bagi negara non-tropis seperti Indonesia untuk mengembangkan kakao dalam lingkungan terkendali, mengurangi risiko fluktuasi pasar dunia.

Di tengah krisis pasokan kakao global yang mendorong harga biji cokelat ke level tertinggi, sebuah perusahaan minyak nabati di Jepang bersama pastry chef ternama memperkenalkan cokelat yang sepenuhnya dibuat dari kakao hasil budidaya dalam negeri. Langkah ini menjadi sorotan karena menawarkan alternatif potensial bagi negara-negara pengimpor kakao, termasuk Indonesia, yang selama ini bergantung pada pasokan dari negara tropis.
Tsuji Oil Mills Co., yang berbasis di Matsusaka, Prefektur Mie, memulai proyek penanaman kakao di rumah kaca pada tahun 2021 di area resor Vison, Taki. Pada Rabu (24/6) lalu, perusahaan itu bersama Hironobu Tsujiguchi, pastry chef yang menangani proses sangrai dan produksi, memamerkan cokelat hasil panen perdana. Cokelat tersebut dibuat dari campuran tiga varietas kakao, menghasilkan rasa autentik dengan aroma markisa dan pisang.
Menurut pernyataan pejabat Tsuji Oil Mills, produksi kakao dalam negeri dalam skala besar dapat menstabilkan harga cokelat yang selama ini rentan terhadap gejolak pasar. Harga kakao global melonjak lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir akibat gagal panen di Pantai Gading dan Ghana, dua pemasok utama dunia. Fenomena ini mendorong inovasi serupa di negara-negara non-tropis, termasuk Jepang yang memiliki iklim subtropis.
Bagi Indonesia, uji coba ini menjadi pelajaran berharga. Meskipun Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia, produktivitas petani lokal masih rendah dan rentan terhadap perubahan iklim. Pengembangan kakao dalam greenhouse atau sistem pertanian terkendali bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dalam negeri. Apalagi, konsumsi cokelat di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah, sementara impor biji kakao masih cukup tinggi untuk memenuhi industri pengolahan.
Hironobu Tsujiguchi, yang dikenal sebagai 'God of Chocolate' di Jepang, mengaku bangga bisa menunjukkan hasil proyek lima tahun ini. "Kami ingin membuktikan bahwa cokelat berkualitas tinggi bisa dihasilkan dari kakao yang ditanam di Jepang," ujarnya dalam acara peluncuran. Meski demikian, tantangan terbesar adalah mencapai skala produksi yang ekonomis. Saat ini, biaya produksi kakao Jepang masih jauh lebih tinggi dibandingkan impor, sehingga harga jual cokelat diprediksi akan premium.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah inovasi serupa bisa diadopsi secara luas di Indonesia. Dengan dukungan riset dan insentif pemerintah, bukan tidak mungkin petani kakao Indonesia bisa memanfaatkan teknologi greenhouse untuk mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem. Jika berhasil, bukan hanya stabilitas pasokan yang terjamin, tetapi juga nilai tambah bagi petani dan industri cokelat nasional.



