China Eastern Borong 25 Airbus A330neo Senilai Rp150 Triliun, Sinyal Ekspansi Rute Jarak Jauh
Baca dalam 60 detik
- China Eastern Airlines memesan 25 unit Airbus A330neo dengan nilai daftar US$9,35 miliar, pengiriman bertahap 2029–2033.
- Pesanan ini menegaskan strategi maskapai memperkuat rute internasional dari Shanghai Pudong, sekaligus menggantikan armada A330 lama.
- Langkah ini menjadi bagian dari persaingan Airbus merebut pangsa pasar penerbangan China yang tumbuh 5% per tahun.

China Eastern Airlines resmi memesan 25 unit pesawat berbadan lebar Airbus A330neo dengan nilai katalog mencapai US$9,35 miliar atau setara Rp150 triliun, menandai langkah agresif maskapai pelat merah itu dalam memperluas jaringan penerbangan antarbenua.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Shanghai, Jumat (26/6), manajemen China Eastern menyebutkan bahwa pesawat akan dikirim secara bertahap mulai 2029 hingga 2033. Perjanjian pembelian telah ditandatangani di Shanghai pada hari yang sama. Harga yang diumumkan mengacu pada daftar harga Airbus per Januari 2025, namun China Eastern mengonfirmasi memperoleh diskon yang lebih besar dibandingkan pembelian sebelumnya—praktik umum dalam kontrak pesawat dalam jumlah besar.
Pesawat-pesawat ini rencananya akan dioperasikan dari Bandara Shanghai Pudong, dengan fokus memperluas destinasi antarbenua dan meningkatkan frekuensi penerbangan. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Pudong sebagai hub transit untuk rute jarak jauh. China Eastern juga memperkirakan setidaknya 10 unit A330 generasi lama akan pensiun karena usia pakai selama periode pengiriman, sehingga pesawat baru sebagian berfungsi sebagai pengganti.
Pesanan ini menjadi yang kedua dalam waktu dekat setelah pada Maret lalu China Eastern menandatangani kontrak pembelian 101 unit A320neo senilai US$15,8 miliar. Tren ini menunjukkan bahwa maskapai-maskapai besar China kembali menggenjot ekspansi internasional sebagai motor pertumbuhan pascapandemi. Di sisi lain, Airbus terus mengintensifkan penetrasi di pasar penerbangan China—yang diproyeksikan tumbuh sekitar 5% per tahun dalam dua dekade mendatang.
Menurut laporan Reuters, negosiasi antara Airbus dan pemerintah China untuk pesanan besar hingga 500 jet telah berlangsung sporadis dalam beberapa tahun terakhir, seringkali dikaitkan dengan kunjungan kenegaraan. Namun, saat Presiden Prancis Emmanuel Macron berkunjung ke China pada Desember lalu, tidak ada kesepakatan yang diumumkan. Pesanan China Eastern kali ini bisa menjadi sinyal bahwa negosiasi tersebut mulai membuahkan hasil, meski dalam skala lebih kecil.
A330neo merupakan varian terbaru dari keluarga A330 yang lebih efisien bahan bakar, dengan sayap rasio aspek tinggi dan aerodinamika yang ditingkatkan, serta ditenagai mesin Rolls-Royce Trent 7000. Bagi China Eastern, pesawat ini tidak hanya memperbarui armada tetapi juga menekan biaya operasional di tengah persaingan ketat dengan maskapai domestik dan internasional.
Pendanaan pembelian akan berasal dari kombinasi modal sendiri, pinjaman bank, penerbitan obligasi, dan instrumen keuangan lainnya. China Eastern menyatakan struktur pembayaran bertahap tidak akan berdampak signifikan terhadap arus kas atau operasional. Dalam pengumuman terpisah, salah satu unit usaha di luar negeri juga akan menerbitkan obligasi senilai 2,8 miliar yuan (sekitar US$411,89 juta), meski tujuan penggunaannya belum diungkapkan.
Bagi industri penerbangan Indonesia, langkah China Eastern ini patut dicermati. Ekspansi rute dari Shanghai Pudong berpotensi meningkatkan konektivitas ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jika China Eastern menambah frekuensi penerbangan ke Jakarta, Bali, atau kota-kota lain, persaingan di rute China-Indonesia akan semakin ketat, terutama dengan maskapai seperti Garuda Indonesia dan Lion Air yang juga melayani rute serupa. Pertanyaan selanjutnya: akankah maskapai nasional merespons dengan modernisasi armada serupa?



