Fenomena Film Teochew: Antara Duka Bahasa dan Daya Pikat yang Terlarang
Baca dalam 60 detik
- Film Dear You berbahasa Teochew ludes terjual dalam hitungan jam, memicu perdebatan soal kebijakan bahasa di Singapura.
- Linguis melihat antusiasme publik bukan sekadar protes kebijakan, melainkan duka mendalam atas punahnya bahasa daerah.
- Larangan media berbahasa daerah justru menciptakan daya tarik terlarang yang memperkuat nostalgia dan mistik bahasa tersebut.

Antrean panjang dan tiket yang ludes dalam hitungan jam—bukan untuk konser K-Pop, melainkan untuk sebuah film berbahasa Teochew dari China. Fenomena ini mengguncang Singapura dan membuka luka lama tentang punahnya bahasa daerah di tengah gempuran kebijakan bahasa nasional.
Film berjudul Dear You itu hanya diputar dalam versi Teochew di beberapa bioskop terbatas, setelah otoritas media Singapura (IMDA) melarang versi asli untuk edaran umum dan hanya mengizinkan versi dubbing Mandarin. Keputusan itu sontak memicu reaksi keras, termasuk dari sineas kenamaan Eric Khoo dan Jack Neo yang menyebut kebijakan tersebut usang. Namun, menurut Asosiasi Profesor Linguistik dari NTU, Tan Ying Ying, akar persoalannya bukanlah sekadar protes terhadap aturan.
“Ini adalah duka,” tulis Tan dalam analisisnya di CNA. “Duka atas bahasa yang sedang sekarat.” Data sensus 2020 menunjukkan hanya 1,4 persen warga Tionghoa Singapura berusia 5-34 tahun yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa utama di rumah. Sebaliknya, pada kelompok usia 60 tahun ke atas, angkanya mencapai 31,6 persen. Generasi muda hampir sepenuhnya kehilangan akses ke bahasa leluhur mereka.
Menariknya, pembeli tiket bukanlah penutur fasih Teochew yang haus akan kosakata baru. Banyak dari mereka bahkan bukan keturunan Teochew. Mereka adalah orang-orang yang pernah mendengar bahasa itu di masa kecil dan kini kehilangan akses. Film ini menawarkan pengalaman langka: beberapa jam mendengar bahasa yang telah menjadi barang antik di negeri sendiri. Tan menyebut bahwa film seperti Dear You dan How To Make Millions Before Grandma Dies memberi bentuk naratif pada kehilangan bahasa—sebuah elegi tentang memori, warisan, dan kepunahan.
Namun, duka saja tidak cukup menjelaskan intensitas reaksi publik. Tan mengidentifikasi ironi besar: kebijakan Speak Mandarin Campaign yang diluncurkan pada 1979 justru menciptakan daya tarik terlarang. Dengan membatasi bahasa daerah di media arus utama selama puluhan tahun, pemerintah secara tidak sengaja meningkatkan mistik dan nilai simbolis bahasa-bahasa itu. “Yang terlarang memiliki kekuatan aneh atas imajinasi manusia,” tulis Tan. Rasa lapar akan Teochew di bioskop sebagian adalah rasa lapar akan sesuatu yang dilarang.
Kebijakan yang awalnya bertujuan menyatukan warga Tionghoa melalui Mandarin—dan sukses besar hingga kini Mandarin tidak lagi terancam oleh bahasa daerah, melainkan oleh Inggris—kini menuai efek samping yang tak terduga. Kelangkaan justru memberi bobot simbolis yang tidak akan pernah dimiliki bahasa daerah jika ia tetap menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. “Kebijakan itu, dalam arti tertentu, merekayasa obsesi yang seharusnya dicegah,” ujar Tan.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan. Di tengah gencarnya promosi bahasa daerah oleh pemerintah melalui kurikulum muatan lokal, daya tarik serupa juga muncul. Film-film berbahasa daerah seperti Yowis Ben (Jawa) atau Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Sumba) kerap mendapat sambutan hangat, sebagian karena kelangkaan dan nostalgia. Namun, seperti diingatkan Tan, antusiasme penonton bukanlah indikator vitalitas bahasa. “Kami tidak mengantre dua jam untuk sesuatu yang berlimpah. Kami mengantre untuk sesuatu yang kami takut akan hilang selamanya,” pungkasnya.
Pertanyaan yang tersisa: apakah kebijakan pelestarian bahasa daerah di Indonesia sudah cukup untuk mencegah nasib serupa? Ataukah kita juga sedang menabung duka untuk generasi mendatang?



