Hasan Mahmud Guncang Australia: Enam Wicket, Bangladesh Unggul di Tes Pertama
Baca dalam 60 detik
- Hasan Mahmud mencatatkan 6-55, membatasi Australia hanya 198 di hari pertama.
- Ini total terendah Australia dalam tujuh pertemuan melawan Bangladesh, menandai dominasi pace attack.
- Bangladesh berpeluang memanfaatkan momentum untuk meraih kemenangan bersejarah di Darwin.

Darwin, 13 Agustus โ Pace bowler Bangladesh, Hasan Mahmud, tampil memukau dengan memungut enam wicket untuk melumpuhkan Australia pada angka 198 di inning pertama tes pembuka di Marrara Oval, Kamis (13/8). Performa ini tidak hanya menghentikan laju tuan rumah, tetapi juga mencatatkan rekor baru bagi Bangladesh dalam pertandingan melawan Australia.
Total 198 ini menjadi yang terendah bagi Australia dalam tujuh tes terakhir melawan Bangladesh. Sebelumnya, rekor terburuk mereka adalah 217 di Mirpur pada 2017, yang berujung pada kekalahan tes pertama dan satu-satunya bagi Australia dari Bangladesh. Kini, dengan skor yang lebih rendah, tekanan langsung mengarah pada tim tuan rumah yang harus bangkit di sisa pertandingan.
Hasan Mahmud, yang baru berusia 24 tahun, mencatatkan angka 6-55, menjadikannya sebagai pace bowler Bangladesh ketiga terbaik dalam satu inning tes, setelah Shahadat Hossain (6-27) dan Ebadot Hossain (6-46). Dengan performa ini, ia menegaskan bahwa lini pace Bangladesh tidak bisa dianggap remeh, terutama di kondisi lapangan yang mendukung pergerakan bola.
Australia sendiri memulai hari dengan skor 183-8 setelah memenangkan toss dan memilih untuk batting di pagi yang panas. Namun, mereka hanya mampu menambah 15 run sebelum inning berakhir. Steve Smith menjadi satu-satunya pemain yang tampil menonjol dengan 71 run, sementara tidak ada pemain lain yang mampu melewati angka 30. Ini menunjukkan betapa dominannya bowling Bangladesh dalam menekan lini batting Australia.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan kualitas kriketnya, keberhasilan Bangladesh ini menjadi pelajaran berharga. Bangladesh, yang dulu sering dianggap sebagai tim underdog, kini mampu bersaing dengan tim sekelas Australia berkat pembinaan pace bowler yang serius. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk terus mengembangkan potensi pemain muda, terutama dalam hal kecepatan dan akurasi bowling.
Dengan keunggulan ini, Bangladesh memiliki momentum besar untuk memenangkan tes pertama. Namun, Australia tetap tim yang berbahaya, terutama dengan pengalaman dan kedalaman skuat mereka. Pertanyaan besarnya adalah apakah Bangladesh mampu mempertahankan tekanan ini atau justru membiarkan Australia bangkit di inning kedua. Satu hal yang pasti, kriket Asia Selatan kini semakin diperhitungkan di panggung dunia.



