Belanja Online AS Tembus 8,3 Miliar Dolar di Hari Pertama Prime Day: Sinyal Daya Beli atau Sekadar Diskon?
Baca dalam 60 detik
- Hari pertama Amazon Prime Day 2026 mencatat belanja online 8,3 miliar dolar AS, naik 5,3% dari tahun lalu, menjadi hari e-commerce terbesar tahun ini.
- Adobe Analytics memproyeksikan total belanja selama empat hari acara mencapai 26,3 miliar dolar, dengan diskon rata-rata 10-24% di kategori elektronik dan kebutuhan pokok.
- Pergeseran fokus ke barang esensial mengindikasikan perubahan perilaku konsumen AS di tengah tekanan inflasi, yang bisa menjadi pelajaran bagi pasar e-commerce Indonesia.

Belanja online di Amerika Serikat pada hari pertama Amazon Prime Day 2026 mencapai 8,3 miliar dolar AS, melonjak 5,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini sekaligus menjadikannya hari belanja daring terbesar sepanjang tahun ini, menurut laporan Adobe Analytics yang dirilis Rabu (24/6).
Prime Day tahun ini digelar lebih awal dari biasanya, yakni selama empat hari mulai Selasa (23/6). Perubahan jadwal ini dinilai sebagai strategi Amazon untuk menguji daya beli konsumen di tengah peralihan prioritas belanja dari barang mewah ke kebutuhan pokok. Adobe memperkirakan total belanja selama acara ini akan mencapai 26,3 miliar dolar AS, angka yang sejalan dengan proyeksi sebelumnya.
Kategori yang mendorong lonjakan penjualan antara lain elektronik, peralatan rumah tangga, perkakas, dan perbaikan rumah. Namun, yang menarik perhatian adalah peningkatan pembelian barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen Amerika semakin selektif dan cenderung memanfaatkan diskon untuk memenuhi kebutuhan dasar, bukan sekadar berbelanja impulsif.
Diskon yang ditawarkan pada hari pertama berkisar antara 10 hingga 24 persen, dan Adobe memperkirakan tingkat diskon ini akan bertahan sepanjang acara. Data ini dianalisis dari 1 triliun kunjungan ke situs e-commerce AS, mencakup 100 juta unit stok dan 18 kategori produk.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan gambaran tentang bagaimana raksasa e-commerce global seperti Amazon mampu menggerakkan pasar meskipun tekanan ekonomi masih terasa. Di dalam negeri, momen serupa seperti Harbolnas atau kampanye diskon besar-besaran dari platform lokal kerap menjadi barometer daya beli masyarakat. Namun, pergeseran ke barang esensial di AS patut dicermati: apakah konsumen Indonesia juga mulai mengutamakan kebutuhan pokok di tengah kenaikan harga pangan dan bahan bakar?
Menurut analis e-commerce, tren ini menunjukkan bahwa konsumen semakin cerdas dalam berbelanja. Mereka tidak lagi sekadar tergiur diskon besar, tetapi juga mempertimbangkan urgensi dan manfaat barang. Hal ini bisa menjadi sinyal bagi pelaku usaha di Indonesia untuk lebih fokus pada strategi promosi yang menonjolkan nilai guna produk, bukan sekadar potongan harga.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah momentum Prime Day ini akan berlanjut di hari-hari berikutnya, atau justru meredup karena kejenuhan diskon. Adobe optimistis target 26,3 miliar dolar akan tercapai, namun dinamika konsumen yang berubah cepat bisa mengubah arah. Bagi pasar Indonesia, pelajaran berharga dari Prime Day adalah pentingnya adaptasi terhadap perilaku konsumen yang semakin rasional dan berbasis kebutuhan.



