Kematian Ricky Hatton Jadi Titik Balik Sang Anak: Campbell Hatton Akui Hampir Bunuh Diri
Baca dalam 60 detik
- Campbell Hatton, petinju 25 tahun, mengaku kematian ayahnya, Ricky Hatton, menyelamatkannya dari jurang bunuh diri yang hanya berjarak beberapa minggu.
- Dalam enam bulan sebelum tragedi, Campbell kehilangan empat orang terdekat dan bergumul dengan kecanduan alkohol serta kokain setelah pensiun dari tinju.
- Kini, setelah menjalani rehabilitasi, Campbell kembali ke ring tinju dengan kontrak multi-pertarungan bersama Misfits Boxing untuk meneruskan warisan sang ayah.

Kematian legenda tinju Ricky Hatton pada September 2025 menjadi momentum yang mengubah hidup putranya, Campbell Hatton. Petinju berusia 25 tahun itu mengakui bahwa kepergian sang ayah justru menyelamatkannya dari niat bunuh diri yang nyaris terlaksana. Dalam wawancara dengan ITV, Campbell mengungkapkan bahwa ia hanya berjarak beberapa minggu dari mengambil nyawanya sendiri sebelum tragedi itu terjadi.
Campbell, yang sempat kehilangan gairah bertinju setelah menderita kekalahan beruntun, mengalami masa kelam selama enam bulan sebelum kematian Ricky. Ia kehilangan empat orang yang sangat dekat dengannya, dan beban itu diperparah oleh perjuangannya melawan kecanduan alkohol dan kokain. “Saya menjalani rehabilitasi, berjuang melawan kecanduan, dan hidup saya benar-benar di luar kendali,” ujarnya.
Menurut Campbell, kecanduan dan masalah mental adalah paket yang tidak terpisahkan. Ia menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang all-or-nothing, baik dalam hal positif maupun negatif. “Saya memiliki kepribadian di mana semuanya harus total. Entah itu baik atau buruk. Begitulah cara saya diprogram,” katanya. Ia juga mengakui telah beberapa kali mencoba bunuh diri, dan bahkan saat tidak benar-benar melakukannya, ia menjalani hidup tanpa memikirkan konsekuensi.
Momen paling mengharukan terjadi ketika polisi mendatangi keluarga Hatton untuk menyampaikan kabar duka. Campbell mengingat bahwa keluarganya sempat panik, mengira berita buruk itu tentang dirinya. “Ketika polisi menyampaikan berita, mereka pikir itu tentang saya – dan mungkin tidak salah. Hanya berjarak beberapa minggu,” kenangnya. Ia menambahkan, “Keluarga saya tidak akan sanggup mengalaminya lagi.”
Kematian Ricky, menurut Campbell, menjadi panggilan untuk bangkit. “Kematiannya menyelamatkan saya dalam beberapa hal karena saya harus membereskan diri saya sendiri,” ujarnya. Setelah menjalani rehabilitasi, Campbell merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Ia kembali ke dunia tinju dengan semangat baru setelah menandatangani kontrak multi-pertarungan bersama Misfits Boxing pada awal tahun ini.
Campbell bertekad untuk menghormati warisan ayahnya yang dijuluki “The Hitman”. “Saya mulai bersemangat lagi. Saya melihat ke belakang dengan sedikit kebanggaan akan sejauh mana saya telah melangkah,” katanya. Kisah Campbell menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap ring tinju, ada perjuangan pribadi yang tak terlihat, dan bahwa kehilangan bisa menjadi awal dari pemulihan.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini relevan dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di kalangan atlet. Di Tanah Air, beberapa atlet juga terbuka tentang perjuangan mereka melawan depresi dan kecanduan, menunjukkan bahwa masalah ini universal dan membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar. Pertanyaan yang muncul: akankah Campbell mampu mempertahankan momentum positifnya dan kembali menjadi petinju yang disegani?



