Harga BBM Malaysia Turun: Diesel dan RON97/95 Terkoreksi, Subsidi Tetap Dipertahankan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia menurunkan harga diesel dan bensin nonsubsidi mulai 25 Juni 2026, merespons moderasi harga minyak global.
- Subsidi BBM untuk kelompok rentan dan wilayah tertentu tidak berubah, dengan program Budi Diesel baru akan berlaku 1 Juli.
- Kebijakan ini mencerminkan upaya Malaysia menyeimbangkan beban rakyat dan pengeluaran fiskal di tengah ketidakpastian pasar minyak.

Pemerintah Malaysia mengumumkan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk periode 25β30 Juni 2026, dengan diesel di Semenanjung Malaysia turun 30 sen menjadi RM4,07 per liter, sementara RON97 dan RON95 masing-masing turun 25 sen menjadi RM4,10 dan RM3,47 per liter. Langkah ini diambil setelah tren penurunan harga minyak mentah global dan meredanya ketegangan di kawasan Asia Barat.
Kementerian Keuangan Malaysia menyatakan bahwa penyesuaian harga ini mengikuti formula Automatic Pricing Mechanism (APM) yang merujuk pada rata-rata harga pasar internasional pekan lalu. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan harga subsidi untuk RON95 di bawah program Budi95 sebesar RM1,99 per liter bagi lebih dari 14 juta penerima yang memenuhi syarat. Harga diesel di Sabah, Sarawak, dan Labuan juga tidak berubah di RM2,15 per liter.
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Keuangan menekankan komitmen pemerintah untuk melindungi daya beli masyarakat melalui subsidi tepat sasaran. Mulai 1 Juli 2026, pemerintah akan memberlakukan inisiatif Budi Madani Diesel (Budi Diesel) yang menyatukan subsidi diesel secara nasional. Melalui mekanisme ini, pemilik kendaraan diesel pribadi yang memenuhi syarat akan mendapatkan harga subsidi RM2,10 per liter menggunakan MyKad, sementara subsidi untuk sektor strategis seperti perikanan, perkebunan, komoditas, dan transportasi umum darat tetap dipertahankan.
Penurunan harga ini mencerminkan perbaikan kondisi pasar minyak global, termasuk moderasi harga minyak mentah dan prospek positif penyelesaian konflik di Asia Barat. Namun, kementerian mengingatkan bahwa pasar minyak global masih menghadapi ketidakpastian jangka menengah, seperti risiko kegagalan negosiasi damai, lambatnya pemulihan rantai pasok, serta tingkat persediaan dan biaya logistik yang belum sepenuhnya kembali ke level sebelum konflik.
Bagi Indonesia, kebijakan Malaysia ini menjadi sinyal penting dalam dinamika harga energi regional. Sebagai negara tetangga yang juga mengelola subsidi BBM besar, langkah Malaysia menunjukkan keseimbangan antara penyesuaian harga pasar dan perlindungan sosial. Pemerintah Indonesia sendiri tengah mengkaji ulang skema subsidi BBM, dan pengalaman Malaysia dalam menerapkan subsidi tertarget seperti Budi95 dan Budi Diesel bisa menjadi referensi, terutama dalam hal penggunaan data kependudukan (MyKad) untuk menyalurkan subsidi.
Kementerian Keuangan Malaysia juga mendorong masyarakat untuk tetap berhemat dalam konsumsi BBM meskipun pasokan nasional saat ini dinilai mencukupi. βPerencanaan perjalanan yang lebih efisien dan mengurangi perjalanan yang tidak perlu dapat membantu memperpanjang pasokan nasional dan meringankan tekanan pada belanja subsidi,β demikian pernyataan resmi yang dikutip Bernama.
Ke depan, pemerintah Malaysia berkomitmen memperkuat ketahanan pasokan jangka panjang melalui kerja sama strategis dengan mitra internasional, termasuk Turkmenistan dan Rusia. Pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana fluktuasi harga minyak global akan terus mempengaruhi kebijakan subsidi di Malaysia, dan apakah model subsidi tertarget ini dapat diadopsi oleh negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, yang tengah bergulat dengan beban subsidi energi yang besar.



