Hari Nasional Singapura: Ketua Hakim dan Mantan Pejabat Tinggi Raih Bintang Kehormatan Tertinggi
Baca dalam 60 detik
- Dua tokoh senior Singapura menerima penghargaan sipil tertinggi, Order of Temasek, dalam perayaan Hari Nasional 2026.
- Penghargaan ini menggarisbawahi pengakuan atas kontribusi mereka dalam reformasi hukum dan keamanan nasional selama puluhan tahun.
- Penganugerahan ini juga menjadi momentum refleksi bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, dalam menghargai dedikasi pelayan publik.

Singapura kembali menegaskan tradisi penghargaannya kepada para pelayan publik dan tokoh masyarakat melalui penganugerahan Order of Temasek (Dengan Kepujian) kepada Ketua Hakim Sundaresh Menon dan mantan Ketua Majelis Penasihat Presiden (CPA) Eddie Teo pada Minggu, 9 Agustus 2026. Keduanya menjadi penerima utama dalam daftar 7.491 tokoh yang mendapat penghargaan Hari Nasional tahun ini, mencakup 6.624 penerima sipil dan 867 personel militer.
Order of Temasek, yang dilembagakan sejak 1962, merupakan tanda jasa sipil tertinggi yang diberikan langsung oleh Presiden Singapura atas nasihat Perdana Menteri. Penghargaan ini tidak hanya menjadi simbol prestise pribadi, tetapi juga cermin prioritas negara dalam mengapresiasi dedikasi yang berdampak luas bagi kemajuan bangsa. Dalam konteks ini, pemilihan Menon dan Teo menyiratkan pengakuan atas dua pilar penting: supremasi hukum dan ketahanan keamanan nasional.
Menon, yang akan memasuki masa pensiun pada 26 Februari 2027 setelah lebih dari 14 tahun menjabat, dikenal sebagai arsitek transformasi digital peradilan Singapura. Di bawah kepemimpinannya, Pengadilan Tinggi membentuk Divisi Banding baru yang mempercepat proses penyelesaian perkara, sementara Pengadilan Keluarga dan Pengadilan Remaja mengadopsi pendekatan keadilan terapeutik. Perdana Menteri Lawrence Wong menegaskan bahwa kepemimpinan Menon telah mengantarkan yudikatif Singapura meraih kepercayaan publik dan rasa hormat komunitas hukum internasional. Langkah ini sejalan dengan tren global adopsi teknologi dalam sistem peradilan, yang juga relevan bagi Indonesia yang tengah mengembangkan e-court dan reformasi birokrasi hukum.
Sementara itu, Eddie Teo membawa pengalaman 35 tahun di sektor publik, termasuk sebagai direktur Divisi Keamanan dan Intelijen Kementerian Pertahanan (1979โ1994) dan direktur Departemen Keamanan Dalam Negeri (1982โ1986). Kariernya berlanjut sebagai Komisaris Tinggi untuk Australia, ketua Komisi Pelayanan Publik dua periode, serta ketua CPA hingga 2026. Pengakuan atas Teo menegaskan pentingnya peran intelijen dan keamanan dalam menjaga kedaulatan negara, sebuah pelajaran berharga bagi negara-negara di kawasan yang menghadapi tantangan keamanan siber dan radikalisme.
Selain dua nama utama, lima tokoh lain menerima Darjah Utama Bakti Cemerlang (Distinguished Service Order), termasuk Alan Chan (ketua LTA), Edmund Cheng (mantan ketua CAAS), seniman keramik Dr Iskandar Jalil, Ustaz Mohamad Hasbi Bin Hassan (pendiri Religious Rehabilitation Group), dan Bob Tan (mantan ketua Sentosa Development Corporation). Keberagaman latar belakang penerimaโdari seni, transportasi, hingga rehabilitasi sosialโmenunjukkan bahwa kontribusi bagi negara tidak hanya diukur dari jabatan formal, tetapi juga dampak sosial dan kultural.
Bagi Indonesia, penganugerahan ini menjadi pengingat akan pentingnya apresiasi negara terhadap pengabdian jangka panjang. Sistem penghargaan seperti ini dapat memperkuat motivasi aparatur sipil dan profesional lainnya. Di tengah upaya reformasi birokrasi, Indonesia dapat mencontoh transparansi dan kriteria ketat dalam seleksi penerima penghargaan, yang tidak hanya mengukur masa kerja tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana Singapura akan menjaga kesinambungan kepemimpinan di sektor hukum dan keamanan setelah pensiunnya dua tokoh kunci ini. Sementara itu, Indonesia dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana membangun sistem penghargaan yang tidak sekadar seremonial, tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong inovasi dan dedikasi publik.



