Iran Klaim Kemenangan atas AS di Balik Kesepakatan Islamabad, Rubio Berkeliling Teluk
Baca dalam 60 detik
- Teheran menyebut Memorandum Islamabad sebagai pengakuan atas kekalahan Amerika Serikat dalam perang singkat Februari-Juni 2026.
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memulai tur Teluk untuk meyakinkan sekutu GCC bahwa komitmen keamanan Washington tidak luntur pasca-kesepakatan.
- Poin krusial seperti program nuklir Iran dan masa depan selat Hormuz masih menggantung dalam masa negosiasi 60 hari.

Iran secara terbuka menyebut kesepakatan yang mengakhiri perang singkat dengan Amerika Serikat sebagai "deklarasi kekalahan AS", di saat yang sama Menteri Luar Negeri Marco Rubio tengah berkeliling negara-negara Teluk untuk menenangkan sekutu yang merasa was-was. Pernyataan tegas Teheran itu disampaikan langsung oleh negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, Rabu (24/6), sehari setelah nota kesepahaman ditandatangani di Islamabad dengan mediasi Pakistan.
Konflik yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu berlangsung sekitar empat bulan. Iran membalas dengan memblokade Selat Hormuz—jalur vital pengiriman energi global—serta meluncurkan ribuan drone dan rudal ke negara-negara Teluk dan Israel. Kini, dengan ditandatanganinya nota kesepahaman, Teheran mengklaim telah keluar sebagai pemenang tanpa harus menyerahkan sistem pemerintahannya.
"Kesepahaman Islamabad bukanlah hasil tekanan dan paksaan, melainkan hasil dari perlawanan dan kewibawaan bangsa Iran yang pemberani," ujar Ghalibaf dalam pernyataan yang dikutip media setempat. "Itulah mengapa Memorandum Islamabad menjadi deklarasi kekalahan Amerika." Ia menambahkan bahwa keamanan Timur Tengah harus dijamin oleh negara-negara kawasan, bukan kekuatan asing.
Di tengah klaim kemenangan Iran, Rubio memulai tur diplomatiknya di Abu Dhabi pada Selasa (23/6) dengan bertemu Presiden UAE Sheikh Mohamed bin Zayed. Juru bicara Rubio, Tommy Pigott, menyebut pertemuan itu membahas implementasi nota kesepahaman, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta komitmen AS terhadap keamanan UAE. "Rubio berterima kasih atas kepemimpinan UAE dan menegaskan kembali komitmen AS terhadap keamanan Emirat," kata Pigott.
Rubio dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Kuwait dan Bahrain untuk menghadiri pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Ia berupaya meyakinkan sekutu bahwa kesepakatan dengan Iran tidak mengorbankan kepentingan mereka, meskipun sejumlah analis menilai nota kesepahaman itu gagal menjawab kekhawatiran lama negara-negara Teluk soal program rudal Iran dan proksi-proksinya di kawasan.
Salah satu isu paling sensitif adalah Selat Hormuz. Iran sebelumnya mengumumkan akan mengenakan "biaya jasa maritim" bagi kapal yang melintas, yang langsung ditentang AS. Namun, Presiden Donald Trump mengklaim melalui platform Truth Social bahwa Iran telah berjanji tidak akan memungut biaya apa pun. "Iran telah memberi tahu AS bahwa... TIDAK ADA TOL, TIDAK ADA BIAYA ASURANSI, DAN TIDAK ADA BIAYA LAIN YANG DIMINTA ATAU DITERIMA OLEH IRAN ATAS KAPAL YANG MELINTASI SELAT HORMUZ," tulis Trump, tanpa merinci apakah komitmen itu hanya berlaku selama masa negosiasi 60 hari.
Di sisi lain, program nuklir Iran masih menjadi ganjalan. Trump mengklaim Teheran telah setuju untuk mengizinkan inspektur PBB kembali, namun Iran membantahnya. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi tetap optimistis inspeksi akan terjadi, sementara pejabat teknis Iran menegaskan belum ada kesepakatan soal inspeksi.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sekitar 20 persen minyak dunia. Jika Iran benar-benar tidak memungut biaya, risiko kenaikan harga minyak jangka pendek bisa mereda. Namun, ketidakpastian soal komitmen jangka panjang Iran dan belum selesainya isu nuklir membuat pasar energi tetap waspada. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan negosiasi 60 hari ke depan untuk mengantisipasi potensi gejolak harga BBM dan inflasi.
Ghalibaf juga menekankan bahwa gencatan senjata di Lebanon—yang ditarik ke dalam perang setelah serangan Hizbullah ke Israel—menjadi prasyarat fundamental bagi kesepakatan definitif dengan AS. "Bagi kami, gencatan senjata di Lebanon sama pentingnya dengan gencatan senjata di Iran," ujarnya. Sementara itu, di Lebanon selatan, warga mulai kembali ke rumah mereka yang hancur, meskipun pasukan Israel masih melakukan serangan udara terhadap target Hizbullah.
Pakistan mengumumkan bahwa pembicaraan teknis antara AS dan Iran akan dilanjutkan pekan depan, namun belum ada tanggal pasti. Dengan tenggat 60 hari yang berjalan, pertanyaan besarnya adalah: akankah kedua belah pihak mampu mencapai kesepakatan permanen, atau justru kembali ke titik konflik?



